Tuesday, 18 July 2017

Peran Masyarakat Diharapkan Dapat Mewujudkan Indonesia Bebas dari Terorisme

Penanggulangan terorisme tidak semata-mata menjadi tugas pemerintah saja, tetapi harus melibatkan seluruh pihak, khususnya masyarakat. Di samping pentingnya koordinasi lintas sektoral antar instansi pemerintah dalam penanggulangan terorisme, sinergi kebangsaan melalui partisipasi seluruh elemen masyarakat sangatlah penting untuk mewujudkan Indonesia Damai dalam bingkai kebhinekaan.

Hal tersebut dikatakan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, MH, dalam sambutannya pada acara memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) BNPT ke-7 tahun yang berlangsung di kantor BNPT, komplek Indonesia Peace and Security Center (IPSC), Citeurep, Kab. Bogor, Senin (17/7/2017) siang. BNPT sendiri lahir pada 16 Juli 2017 berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres)No.46 tahun 2010,

“Kami ingin menegaskan bahwa penanggulangan terorisme saat ini tidak hanya butuh sinergi lintas sektoral, tetapi sinergi kebangsaan yang melibatkan seluruh komponen bangsa dari berbagai latar belakang untuk mewujudkan Indonesia bebas dari kekerasan dan terorisme,” ujar Komjen Pol. Suhardi Alius. 

Mantan Sekretaris Utama (Sestama) Lemhanas ini menjelaskan, tantangan terorisme yang sedang dihadapi oleh Negara ini tidak pernah surut. Terorisme terus menjadi ancaman serius bagi bangsa Indonesia yang tidak hanya menyasar keamanan masyarakat, tetapi secara ideologis sebagai ancaman laten bagi keutuhan dan kedaulatan NKRI.

“Tentunya dinamika lingkungan strategis pada lingkup regional maupun global serta perkembangan teknologi informasi yang cukup pesat telah memberikan warna baru bagi munculnya fenomena transformasi terorisme lama menuju terorisme baru yang lebih kompleks,” ujar alumni Akpol tahun 1985 ini. 

Lebih lanjut pria yang pernah menjadi Kapolda Jawa Barat ini menjelaskan bahwa jika dicermati ancaman terorisme pada era terdahulu lebih bersifat lokal domestik, namun pada saat ini jaringan terorisme telah menampakkan diri dalam jaringan yang bersifat regional dan bahkan global.

“Jika terdahulu proses radikalisasi dan indoktrinasi terjadi melalui sel terutup dan garis komando yang jelas saat ini proses radikalisasi lebih terbuka dengan munculnya fenomena lone wolf tanpa jaringan dan garis komando (leaderless terrorist),” kata pria kelahiran Jakarta, 10 Mei 1962..

Dalam konteks tantangan baru tersebut, BNPT sebagai leading agency dalam mengoordinasikan instansi terkait dalam penanggulangan terorisme harus menyadari pentingnya penguatan sinergi dalam rangka penyelenggaraan program-program yang efektif dan tepat sasaran. “Luasnya wilayah Indonesia menjadi sejalan dengan luas potensi ancaman terorisme di Indonesia,” kata mantan Kadiv Humas Polri ini.

Untuk itu pria yang pernah menjadi Wakapolda Metro Jaya ini mengatakan, momentum ulang tahun ke-7 BNPT ini harus dapat dimaknai sebagai penguatan sinergi BNPT dengan lembaga dan masyarakat dalam upaya menanggulangi terorisme.

“Kehadiran perwakilan kementerian/ lembaga dan masyarakat pada acara ini merupakan salah satu wujud nyata kami mengajak seluruh komponen masyarakat untuk bersama-sama bersinergi untuk mewujudkan Indonesia Damai dalam Bingkai Kebhinekaan yang kita jadikan tema pada peringatan ulang tahun ini,” ujar mantan Kapolres Metro Jakarta Barat dan Polres Depok ini.

Sementara itu Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Jenderal TNI (Purn) Wiranto yang hadir dalam acara tersebut dalam sambutannya menegaskan bahwa terorisme telah menjadi musuh utama yang harus segera diatasi, karenanya ia berjanji tidak akan membiarkan BNPT bekerja sendiri dalam memberantas terorisme.  

Dikatakan alumni Akademi Militer Nasional tahun 1968 ini mengatakan, apa yang telah dilakukan BNPT selama ini sungguh sangat membanggakan dan telah mendapatkan berbagai apresiasi tidak hanya dari dalam negeri, tetapi dari luar negeri.

“Banyak undangan-undangan mengalir untuk meminta penjelasan, meminta pengalaman, meminta hal lain yang dibutuhkan untuk melawan terorisme secara menyeluruh,” ujarnya.
  
Menurutya, melawan terorisme tidak bisa sendirian. Melawan terorisme dibutuhkan tiga hal. Yang pertama yakni sinergi atau kerjasama. “Negara lain dengan Indonesia sudah sepakat untuk melawan terorisme dengan kerjasama, maka di Indonesia harus juga bersinergi, kebersamaan bnaik dengan instansi dan juga bersama masyarakat,” ujar.

Hal yang kedua yakni melawan terorisme secara total. Hal tersebut dikarenakan aksi yang dilakukan kelompok terorisme sudah menggunakan spektrum kehidupan di masyarakat. “Melawan mereka tidak bisa sepotong-sepotong. Karena cara mereka melakukan teror sudah masuk ke semua sendi kehidupan masyarakat, baik sistem komunikasi, pendidikan, ekonomi dan sebagainya,” ujarnya.

Dan cara melawan terorisme yang ketiga menurutnya yakni harus dilakukan secara serius. Karena secara tidak sadar sel-sel kelompok teroris ini telah ada disekitar kita. “Keseriusan dan kewaspadaan harus tetap ada pada kita pada saat kita melawan terorisme. Jadi tiga hal ini harus kita kembangkan,” ujar pria kelahiran Yogyakarta, 4 April 1947 ini  

Selain Wiranto, hadir pula dalam acara perayaan HUT BNPT tersebut yakni Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahyo Kumolo, beserta sejumlah tamu undangan lainnya yang terdiri dari tokoh nasional, duta besar negara-negara sahabat, anggota komisi III DPR, dan sejumlah tokoh agama. (Adri Irianto)


BAGIKAN

0 comments: