Thursday, 10 August 2017

Perangi Propaganda Radikal Terorisme di Dunia Maya Dengan Viralkan Konten Damai

 Pelatihan duta damai dunia maya 2017 Wilayah Sumatera Barat (Sumbar) yang dieselnggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorimse (BNPT)  sejak Senin (7/8/2017) lalu di Premier Basco Hotel, Padang secara resmi ditutup pada Kamis siang ini. Dari pelatihan yang diikuti 60 peserta itu, dihasilkan lima website damai yaitu www.bagonjong.dutadamai.id, www.marawa.dutadamai.id, www.konco.dutadamai.id, www.paganagari.dutadamai.id, dan www.galamai.dutadamai.id.

"Ini sangat bagus dan harus diviralkan sebagai bagian kontra narasi kita dalam memerangi propaganda radikalisme dan terorisme di dunia maya," ujar oleh Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol. Ir. Hamli, ME dalam sambutannya saat menutup kegiatan tersebut, Kamis (10/8/2017).

Dengan potensi itu, mantan Kabid Deradikalisasi Detasemen Khusus (Densus) 88/Anti Teror Polri ini meminta para duta damai dunia maya terus berkreasi dan tidak berhenti setelah pelatihan ini. Menurutnya di dunia maya yang penting ada dua yaitu kontennya dan yang mengirim juga ada sehingga kedua-duanya harus sama-sama di update terus.

"Komitmen ini harus terus dipelihara dan ditingkatkan dengan membuat konten yang lebih banyak lagi, baik itu berupa tulisan, gambar, video, meme, dan lain-lain," ujar alumni Teknik Kimia Institut Tekhnologi Sepuluh November (ITS) ini.

Ia melanjutkan bahwa tugas duta damai dunia maya ini sangat mulia. Pasalnya dari hasil penelitian dari lembaga-lembaga berkompeten seperti Inzet dan UI, didapat data bahwa penyebab orang melakukan terorisme 45,5 persen karena pemahaman keliru yang menjadikan mereka melakukan tindakan terorisme dengan menjadikan ideologi menjadi agama.

Kemudian 20 persen karena solidaritas komunal seperti yang terjadi di Palestina dan Rohingya. 10,2 persen mob mentality alias ikut-ikutan, 10 persen balas dendam, dan 9 persen situasional.

Selain itu, dari penelitian Wahid Institute, dari lebih dari 250 juta penduduk Indonesia, 72 persen anti radikal, 7,2 mendukung aksi radikalisme, 0,4 persen sudah pernah melakukan kekerasan. "Kita bisa berharap dari komposisi itu, 72 persen tetap posisinya atau meningkat. salah satu yang diharapkan ya dari kerjaan adik-adik ini. Diharapkan orang yang mau melakukan upaya radikal langsung berhenti bila melihat website atau video adik-adik duta damai," tutur Almuni Sekolah Perwira Militer Sukarela tahun 1989 ini.

Untuk itu pria yang dalam karir kepolisiannya dihabiskan dalam penelitian bom ini menegaskan bahwa menjadi tugas bersama untuk tetap mempertahankan 72 persen, bahkan kalau bisa meningkatkan lagi. 

"Duta damai dunia maya harus menjadi agen perubahan dalam mengikis dan menangkal radikalisme dan terorisme di dunia maya yang disusupi agitasi dan propaganda radikalisme terorisme. Insya Allah ini bisa jadi bagian ibadah dan akan mendapat balasan pahala dari Allah SWT," katanya mengakhiri. (Adri Irianto)

BAGIKAN

0 comments: