Tuesday, 8 August 2017

Tak Satupun Daerah di Indonesia Steril dari Ancaman Terorisme

 Tak kurang sebanyak 1.200 teroris telah ditangkap aparat kepolisan dari berbagai daerah yang ada di Indonesia sejak terbentuknya Detasemen Khusus (Densus) 88/Anti Teror Polri. Dengan jumlah tersebut tentunya tidak ada satu pun provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia yang steril dari terorisme. Meski jumlahnya di tiap daerah tidak banyak, namun keberadaan kelompok radikal itu harus mendapat kewaspadaan tinggi oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah.

Hal tersebut dikatakan kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, MH, dalam sambutannya saat membuka pelatihan Duta Damai Dunia Maya 2017 wilayah Sumatera Barat (Sumbar) di Premier Basko Hotel, Padang, Senin (7/8/2017) malam.

“Memang mereka tidak sering pulang ke kampung halamannya, tapi kalau sampai mereka pulang dan menyebarkan ideologi kekerasan, apalagi sampai melakukan aksi, itu jelas tidak boleh terjadi. Dari situlah kita harus selalu waspada terhadap kelompok ini,” kata Kepala BNPT Komjen Pol. Suhardi Alius. 

Kepala BNPT yang berdarah Minang ini, menilai Sumbar memiliki kekhususan sendiri. Kalau dulu orang Padang lebih suka berdagang, sekarang dari kemajuan informasi teknologi, mau tidak mau semua menjadi rentan terhadap propaganda radikalisme dan terorisme ini. Dari hasil survei nasional, disebutkan orang Indonesia rata-rata bermain dengan gadget selama 131 per hari. Akibat globalisasi itu nilai-nilai tradisional islam banyak tergerus dan terbawa ideologi transnasional. Bahkan pelaku penusukan dua anggota Brimob di Masjid Falatehan depan Mabes Polri, orang dari Sumbar yaitu Kabupaten Agam.

Dari berbagai data yang ia kumpulkan ada puluhan orang Minang yang ‘terbawa’ paham kekerasan itu. Beruntung mereka sudah tertangkap. Mereka berasal hampir di seluruh Provinsi Sumbar dan sebagian masuk jaringan ISIS. Fakta itulah menurut Suhardi, BNPT terus membuat kreasi dalam menjalankan program penanggulangan terorisme. Salah satunya pelatihan Duta Damai Dunia Maya 2017 di Padang. Kegiatan ini adalah kali keempat tahun ini, setelah di Bandung, Semarang, dan Malang.

“Kenapa berharap banyak pada generasi muda? Karena sasaran brain storming mereka adalah generasi muda. Karena itu, anak muda jangan hanya diisi pengetahuan saja, tapi juga ideologi dan agama. Makanya dengan duta damai ini kami mengkreasikan generasi muda untuk membantu BNPT melakukan kontra narasi di dunia maya dengan konten-konten damai dan positif,” ujar mantan Kapolda Jabar ini.

Pada kesempatan itu, mantan Kabareskrim Polri ini juga memaparkan betapa banyak negara besar yang ingin bersinergi dengan Indonesia dalam penanggulangan terorisme. Hal itu tidak lepas dari program BNPT tahun ini yang penanggulangan terorisme dari hulu sampai ke hilir. Bahkan negara adi daya sekaliber Amerika Serikat merasa perlu mengundang BNPT untuk mencari masukan sekaligus belajar penanganan terorisme dengan soft approach.

“Kemarin saya baru datang dari Washington DC. Kami diundang, karena selama ini Amerika hanya mengenal hard approach. Di sini, BNPT menyentuh semua dari hulu sampai hilir. Di hulu kita urai apa penyebabnya, apakah itu kemiskinan, kebodohan, atau apa,” ucap pria kelahiran Jakarta, 10 Mei 1962 ini. 

Selain itu, pelibatan mantan narapidana kasus terorisme (Napiter) dengan menggandeng dan membangunkan masjid dan TPA di Deliserdang dan Lamongan juga menjadi sorotan dunia. Apalagi BNPT juga merangkul dan membantu biaya pendidikan anak-anak mantan napiter. Pasalnya, kalau keluarganya dimarjinalkhan di masyarakat, maka siap-siap mereka pasti akan kembali menjadi teroris. Semua itu sekarang kita kemas dalam sebuah program pencegahan, termasuk duta damai dunia maya ini,” ujar mntan Wakapolda Metro Jaya ini.

Pembukaan duta damai dunia maya itu dihadiri Gubernur Sumbar Prof. Dr. Irwan Prayitno, Psi, MSc, Deputi I BNPT Mayjen TNI Abdul Rahman Kadir, Deputi III BNPT Irjen Pol. Drs. Hamidin, Kapolda Sumber Irjen Pol. Fahrizal, Danrem 032/Wirabraja, Brigjen TNI Bakti Agus Fadjari, Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah, Inspektur BNPT DR. Amrizal, MM dan jajaran FKPT Sumbar. (Adri Irianto)


BAGIKAN

0 comments: