Thursday, 21 September 2017

Hijrah Itu Berpindah Untuk Kehidupan Yang Lebih Baik

Di era sekarang, makna hijrah itu adalah berpindah menuju kehidupan lebih baik dan bermakna, dan indah, bukan berpindah justru untuk berperang dan saling baku bunuh. Pernyataan itu dilontarkan Ketua Lembaga Dakwan PBNU, KH Maman Imanulhaq, dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1439 H.

“Hijrah itu pada hakikatnya sebuah semangat untuk melakukan perubahan. Manusia yang berpindah, diharapkan juga mengusung semangat perubahan menuju kehidupan yang semakin baik, indah, dan bermakna,” ungkap Maman Imanulhaq di Jakarta, Kamis (21/9/2017).

Untuk itu, siapa pun (khususnya umat Islam) yang ingin mewarisi semangat hijrah harus mempunyai gairah untuk terus mencari hal-hal yang baru, baik, dinamis, dan progresif dalam kehidupan yang kaya warna dan nuansa.

Dirinya mencontohkan, Rasulullah melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah pada hari Jumat tanggal 13 Rabi‘ul Awwal atau 24 September 622 Masehi karena ingin mengubah tatanan hidup, kebudayaan, dan peradaban umat manusia yang rendah, primitif, bobrok, kejam, timpang, dan tidak manusiawi, menuju tatanan hidup, kebudayaan, dan peradaban yang sehat, adil, baik, sejahtera, dan manusiawi. Rasulullah menawarkan ajaran Islam sebagai alternatif dan solusi kehidupan yang baik dan sehat.

"Saat itu, Rasulullah bersama pengikutnya terpaksa “menyingkir” dari Makkah karena mendapatkan gempuran bertubi-tubi dari kaum kafir Quraisy, yang merasa terancam dengan ajaran baru yaitu islam. Gempuran itu sangat membahayakan dan mengancam keselamatan jiwa Rasulullah dan para pengikutnya," katanya menceritakan.

Peristiwa hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah itu, oleh Khalifah Umar ibn Khaththâb dijadikan sebagai tonggak awal diberlakukannya tahun baru dalam Islam yang disebut tahun hijriyah atau hijrah.

Seperti diketahui, seiring maraknya propaganda radikalisme dan terorisme, tahun baru hijriyah itu dijadikan ajang propaganda untuk menarik pengikutnya untuk bergabung berperang di negeri konflik seperti Suriah, Filipina, dan terakhir ke Myanmar.

Menurut Kiai Maman, langkah-langkah itu jelas tidak sesuai dengan ajaran Rasululloh. Ia menegaskan bahwa hijrah sebaiknya dilakukan dengan niat yang tulus dengan cara melepaskan diri dari belenggu ambisi pribadi, kepicikan, dan kepentingan sesaat. Bukan berhijrah untuk melakukan kekerasan, apalagi pembunuhan. “Manusia yang hijrah harus selalu memiliki optimisme dalam menyongsong masa depan yang semakin baik,” ujarnya Maman.

Dalam konteks dunia dan global, lanjut pria yang juga anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PKB ini, semangat hijrah misalnya bisa diisi dan diwarnai dengan perjuangan yang tak kunjung usai untuk menegakkan keadilan dan perdamaian. Selain itu, semangat hijrah dalam pentas Indonesia mutakhir bisa diwarnai dengan perjuangan melawan segala bentuk ketidakadilan, kekerasan, penindasan, narkoba, korupsi, serta upaya-upaya disintegrasi yang mengancam keutuhan NKRI. (Adri Irianto)

BAGIKAN

0 comments: