Wednesday, 13 September 2017

Kisah Penyesalan Para Deportan Eks Simpatisan ISIS

Sebanyak 18 orang warga negara Indonesia (WNI) yang pernah menjadi pendukung jaringan kelompok radikal terorisme Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) dipulangkan ke Tanah Air pada 12 Agustus 2017 silam setelah dijemput pihak dari kementerian Luar negeri (Kemenlu) dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Mereka diterbangkan dari Erbil, Irak pada 11 Agustus dan tiba di Bandara Soekarno-Hatta, sehari kemudian.

Beberapa orang deportan eks simpatisan ISIS itu menceritakan kisah kelamnya saat bergabung dengan kelompok militan ISIS di Irak dan Suriah. Dalam sebuah video kesaksian yang dibuat oleh Pusat Media Damai (PMD) BNPT dan ditayangkan di situs BNPT.go.id, semua WNI itu satu suara, dan menyatakan bahwa mereka tertipu. Semua yang dijanjikan ISIS di dunia maya, menurut mereka hanyalah kebohongan.

Heru menceritakan kisah seram yang dilihatnya. Dia memang tidak pernah melihat eksekusi langsung yang dilakukan ISIS, tapi ada satu pengalaman yang terngiang di kepalanya hingga saat ini. "Saya takut," katanya. Dia bercerita, ada sesosok mayat yang telah dieksekusi dan disandarkan. "Kepalanya dibuat mainan sama anak-anak, ditendang-tendang. Orang sudah mati saja digituin. Mual saya," katanya.

Merasa tertipu. Itulah, yang dirasakan WNI lainnya, Dwi Djoko Wiwoho, lelaki yang dulu pernah menjabat sebagai Direktur Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Badan Pengusahaan (BP) Batam yang dilaporkan hilang sejak tahun 2015 bersama keluarganya ini menilai ISIS tak lebih sebagai kelompok pencari wanita.

"Banyak itu yang nawar, melamar datang. Sampai anak saya yang kecil itu ditanya, kalau sudah haid kasih tahu ya," kenang Djoko yang terlihat kurus dan letih.

Djoko yang dulu meninggalkan Batam bersama anak-anak perempuannya dan istri ke Suriah mengaku melihat hal yang jauh berbeda dari ISIS yang mereka kenal di jejaring sosial. "Katanya dulu ada sekolah gratis. Tapi begitu nyampe di sana malah disuruh kawin," ujar Djoko.
Naila, seorang perempuan yang berangkat ke Suriah mengatakan, tindakan-tindakan yang dilakukan ISIS, di luar nalar manusia. "Aku enggak nyangka separah setelah aku masuk ke Suriah. Pas di Suriah sampai asrama perempuannya, kelakuannya itu, Ya Allah, bisa kubilang lebih parah dari binatang," kata Naila dalam kesaksiannya.

Lain Naila, lain lagi Heru. Pria yang sempat bergabung dengan ISIS itu heran dengan kelakuan orang-orang yang disebut pejuang itu. "Hampir seminggu, dua atau tiga kali terjadi perkelahian, penyebabnya, makanan, senggolan, istilahnya kayak preman," katanya.

Menurut kesaksian lain yang diungkapkan Difansa, di ISIS, harga nyawa manusia sangatlah murah. "Di luar ISIS kafir, main asal bunuh saja," kata dia.

ISIS, kata Difansa, mengejar tiga hal, yakni kekuasaan, harta dan perempuan. "Itu nyata sekali, keluarga saya yang masih single dikejar, jihad nikah. Menikah itu seperti lomba, abis menikah, cerai, dan semua itu difasilitasi negara, ISIS dapat uang," kata dia.

Difansa menyarankan agar setiap orang Indonesia yang berniat menuju ke ISIS mengurungkan niatnya. "Orang-orang yang belum masuk sana bersyukurlah. Lubang penipuan semua, Saya luar biasa menyesalnya," katanya, (Adri Irianto)

Berikut link video penyesalan para WNI Deportan Eks Simpatisan ISIS :

https://www.bnpt.go.id/kisah-para-deportan-isis.html

video



BAGIKAN

0 comments: