Monday, 4 December 2017

Deputi III BNPT Paparkan Pencegahan Terorisme di Doha

Doha - Dalam upaya untuk menanggulangi terorisme dari hulu sampai hilir tentunya dibutuhkan upaya yang komprehensif dan strategis. Upaya tersebut antara lain dengan mengupayakan program rehabilitasi bagi anggota masyarakat yang pernah terpengaruh kegiatan terorisme, membangun komunikasi dan melibatkan komponen masyarakat lainnya.

Hal ini disampaikan Deputi III bidang Kerjasama Internasional, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Irjen Pol. Drs. Hamidin, dalam Sosialisasi Pencegahan Terorisme yang diadakan di Doha, Qatar, demikian diungkapkan Minister Counsellor KBRI Doha, B. Dharmawan kepada Antara London, Senin (4/12/2017).

Irjen Hamidin di depan komunitas diaspora Indonesia di Doha, akhir pekan kemarin mengatakan, terorisme tidak bisa dikalahkan dengan membunuh, menembaki, menangkap para pendukungnya, atau merusak jaringannya, dibutuhkan upaya komprehensif, terpadu dan strategis guna menanggulangi ideologi terorisme sampai ke akarnya.

Hal yang bisa dilakukan di antaranya adalah program rehabilitasi dan membangun komunikasi dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Acara sosialisasi Pencegahan Terorisme ini digelar atas kerjasama BNPT dengan KBRI di Doha.

Dipaparkan alumni Akpol tahun 1987 ini, kebijakan BNPT yang menitikberatkan programnya lebih kepada metode "soft approach" (pendekatan lunak) dalam menanggulangi terorisme. Pendekatan ini lebih menekankan dialog dan silaturahmi dengan berbagai lapisan masyarakat, bahkan terhadap anggota masyarakat yang terlibat dalam jaringan radikalisme dan terorisme.

"Upaya seperti ini diharapkan bisa memutus rantai kekerasan terorisme, dengan cara yang lebih manusiawi," ujar mantan Kapolres Metro Jakarta Pusat dan Kapolres Metro Tangerang ini.

Dalam sambutannya Dubes Indonesia untuk Qatar, Muhammad Basri Sidehabi menyambut baik upaya BNPT dalam melakukan sosialisasi agar komunitas Indonesia berhati hati dan berupaya menghindari kegiatan yang terkait dengan terorisme dan segera melaporkan kepada pihak terkait di Qatar.

Mantan Anggota DPR ini menegaskan pentingnya peran ormas di Qatar dalam mengantisipasi agar anggotanya menjauhi hal-hal yang terkait dengan kegiatan yang diduga mengandung unsur terorisme.

"Komunitas diapora diharapkan dapat menjadi teladan bagi WNI di perantauan dan menjadi contoh kepribadian Indonesia di Qatar," ujarnya menambahkan komunitas Indonesia untuk mematuhi peraturan setempat serta membantu menjaga persatuan dan kesatuan.

Menurut pejabat KBRI Doha, Boy Dharmawan, terdapat sekitar 51 ormas di Qatar yang dipimpin Ketua Persatuan Masyarakat Indonesia di Qatar (Permiqa), Edwin Kurniawan. Permiqa berperan penting dalam menjaga persatuan dan kesatuan WNI di Qatar diperkirakan berjumlah sekitar 40 ribu.

"Sosialisasi ini juga digunakan untuk menyajikan perkembangan situasi dan kondisi sosial-politik di kawasan khususnya perkembangan politik dan keamanan akibat adanya blokade terhadap Qatar oleh negara kuartet yang dipimpin Saudi Arabia sejak Juni lalu," katanya.

KBRI menyampaikan upaya yang dilakukan KBRI Doha dalam mempersiapkan contigency plan atau langkah antisipasi sekiranya kondisi kawasan tidak kondusif. (Aristarkhus Umbar Kriatianto)

BAGIKAN

0 comments: