Friday, 22 December 2017

Kemenkum HAM Bangun Lapas Super Maksimum di Nusa Kambangan

Kementerian Hukum dan HAM membangun lapas supermaksimum di Lapas Batu dan Lapas Pasir Putih. Hal itu untuk memutus jaringan-jaringan yang masih berhubungan dengan dunia luar. Jaringan tersebut di antaranya untuk narkoba dan terorisme.

"Hari ini Kapolri, Deputi BNN, Deputi BNPT sudah mengecek dan di sini ini. Kita kerja sama Kemenkominfo, jam (jammer atau blank area), semua pakai CCTV, semua one person for one room dimonitor selama 24 jam dan semua orang yang ditempatkan di Lapas Batu dan Pasir Putih telah dilakukan assessment oleh tim independen," kata Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly kepada wartawan di Lapas Batu, Jumat (22/12/2017).

Menurut dia, pihaknya akan betul-betul membuat orang-orang yang ditengarai mempunyai jaringan untuk di-lock out di bawah kontrol 24 jam bersama orang-orang BNN, orang-orang BNPT, Polri, dan Intel. Mereka menjaga daerah agar menjadi lapas maximum security.

"Dia bisa keluar kalau mau konsultasi, tapi di dalam itu 24 jam, besuk tidak berhadapan dengan tamu, dibatasi alat kaca dan bisa bertatapan muka dengan kaca fiber melalui iPhone dan iPhone itu direkam. Jadi kita tahu apa pembicaraannya. Memang persoalan agak privasi, tapi memang itu semuanya kita buat agar tidak ada lagi pembicaraan kurir," ujarnya.

Selain itu, lanjut dia. Jika ingin masuk ke dalam pun semua barang harus melalui X-ray barang dan X-ray badan yang sangat peka. Bahkan apa pun yang dibawa saat masuk ke dalam lapas tersebut dapat diketahui.

"Betul-betul kita pakai yang high technology, jadi cincinnya saja kelihatan semua barang-barangnya (yang dibawa) kelihatan dan kerangka badan semua kelihatan," jelasnya.

Selain meningkatkan sarana keamanan, pihaknya akan menempatkan para penjaga di lapas tersebut yang benar-benar pilihan dan sudah melalui assessment. Jika ingin mendapatkan promosi, para penjaga harus berhasil di lapas tersebut.

"Petugas yang di sini kita buat sebagai tantangan buat dia. Kalau berhasil, bisa buat promosi buat dia ke tempat lain. Kalau gagal, tidak ada promosi," jelasnya.

Bangunan super-security tersebut akan segera digunakan, meskipun saat ini kapasitasnya menjadi turun dari 750 orang napi menjadi hanya 90 orang napi di Lapas Batu dan 124 orang di Lapas Pasir Putih.

"Segera setelah ini assessment personel. Jadi ini masih kosong. Jadi sudah siap kita bangun tahun ini baru kita tempatkan. Kapasitas 90 dulu, kapasitas beberapa ratus. Ya memang rugi juga. Tapi memang demi pengamanan, demi kepentingan bangsa, jadi harus begitu," katanya.

Sedangkan menurut Kapolri Jenderal Tito Karnavian, jika fasilitas itu benar-benar dijalankan, akan menjadi penjara super-maksimum security.

"Kita butuhkan untuk menempatkan terutama kasus-Kasus narkotika dan terorisme yang mereka merupakan jantung jaringan," kata Tito.

Dia mengatakan terorisme dan narkotika mempunyai beberapa jaringan. Maka jaringan tersebut ada inti, kemudian ada yang melakukan kegiatan lapangan, ada pendukung, dan ada simpatisan.

"Nah, di sini yang ditempatkan yang inti. Mereka yang merupakan jantung jaringan, kalau mau melemahkan jaringan mereka, jantungnya yang kita ambil. Jantung ini dipindahkan ke maximum security supaya mereka tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar. Tapi memang masih manusiawi, masih ada pertemuan keluarga, hanya keluarga inti yang boleh hadir, suami dan anak-anak, yang lain tidak," jelasnya.

Dia berpikir, jika semua sudah cukup baik, hanya tinggal manajemen personelnya yang dikuatkan di tempat tersebut. Nantinya personel yang ditempatkan di lapas tersebut bisa mendapatkan promosi jika dia berhasil bertahan.

"Tinggal mungkin masalah manajemen personelnya, salah satunya tempat ini untuk yang baru-baru ingin promosi ya tesnya disini. Kalau polisi tesnya di daerah konflik satu tahun, di daerah konflik berhasil kita promosi, dia tidak berhasil ya dia bertahan lagi di situ," ungkap Tito.

Sedangkan Deputi Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional Irjen Arman Depari mengatakan, jika melihat bangunan yang sedang dibangun dan disiapkan, saat ini sangat memadai. Apalagi akan ditambah dengan teknologi.

"Kita bukan hanya menangkap orang, tapi juga bagaimana kita memutus jaringan. Oleh karena itu, memutus jaringan ini sangat penting dengan sistem penjara atau sel yang sekarang ini," ujar Arman.
(Wawan)

BAGIKAN

0 comments: