Wednesday, 20 December 2017

Pengacara Novanto Sebut Jaksa Tidak Cermat

Tim pengacara Setya Novanto menyebut jaksa penuntut umum pada KPK tidak cermat menyusun surat dakwaan. Ketidakcermatan penyusunan dakwaan dilihat pengacara dari tiga surat dakwaan berbeda.

Pengacara Setya Novanto, Firman Wijaya, memaparkan posisi kliennya yang didakwa melakukan tindak pidana korupsi e-KTP bersama-sama eks pejabat Kementerian Dalam Negeri Irman dan Sugiharto serta pihak swasta Andi Agustinus alias Andi Narogong. Meski didakwa bersama-sama, waktu terjadinya tindak pidana (tempus delicti) dan tempat dilakukannya tindak pidana (locus delicti) para terdakwa disebut pengacara berbeda.

"Tempus delicti terdakwa Irman dan Sugiharto November 2009-Mei 2015. Namun dalam perkara Andi Agustinus November 2009-Mei 2015. Tempus delicti Setya Novanto November 2009-Desember 2013," kata Firman membacakan nota keberatan (eksepsi) atas dakwaan Novanto di Pengadilan Tipikor, Jl Bungur Besar, Jakarta Pusat, Rabu (20/12/2017).

Sedangkan perbedaan locus delicti tindak pidana yang terjadi yakni Irman dan Sugiharto di Graha Mas Fatmawati, kantor Ditjen Dukcapil, Hotel Sultan. Sedangkan locus delicti dalam dakwaan Andi Narogong di gedung DPR, Hotel Gran Melia dan Graha Mas Fatmawati.

Sementara pada surat dakwaan Novanto, tempat terjadinya tindak pidana disebutkan di gedung DPR, Hotel Gran Melia, Graha Mas Fatmawati, Equity Tower, Jl Wijaya XIII, Jaksel.

"Berdasarkan tabel uraian waktu dan tempat dapat disimpulkan surat dakwaan disusun tidak cermat berkaitan dengan locus dan tempus delicti," tegas Firman.

Hal ini menurutnya tidak sesuai dengan Pasal 143 huruf b KUHAP yang mensyaratkan surat dakwaan berisi uraian secara cermat, jelas dan lengkap mengenai tindak pidana yang didakwakan dengan menyebutkan waktu dan tempat tindak pidana itu dilakukan. (Casandra Editya)

BAGIKAN

0 comments: