Kerukunan Bisa Terkoyak Karena Politisasi Agama - ZONASATU.CO.ID

ZONASATU.CO.ID

Saluran Informasi Terkini

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Thursday, 28 December 2017

Kerukunan Bisa Terkoyak Karena Politisasi Agama

Sepanjang 2017, masyarakat terus disuguhkan dengan maraknya ujaran kebencian dan kabar bohong (hoax). Belakangan malah terungkap adanya jaringan Saracen yang diduga mengelola isu dan ujaran kebencian di media sosial. Kelompok Saracen diduga memanfaatkan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) saat menjelang Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017.

Memasuki tahun politik 2018 dan 2019 kembali akan menjadi ajang pertarungan politik identitas dan pembentukan kongsi-kongsi politik untuk memenangkan pilkada dan pilpres. Pada 2018 ada 171 pemilihan kepala daerah, termasuk pemilihan gubernur di tiga provinsi favorit, yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Ketiga provinsi itu merupakan penyumbang suara dominan yang berharga dalam Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019.

Direktur Islam Nusantara Center (INC) A Ginanjar Sya'ban mengatakan, di tengah kuatnya arus politik sektarian berbasis pada agama, ras, dan etnis, yang juga menjadi fenomena global saat ini, kalangan santri mempunyai posisi yang strategis. Menurutnya, di antara yang paling mengemuka adalah politik sektarian sehingga Pilkada 2018 rentan dipolitisasi dengan isu-isu agama yang mengarah pada sektarianisme.

"Politisasi isu agama itu menyebabkan rentannya kerukunan beragama," kata Ginanjar Sya'ban saat pemaparan refleksi akhir tahun 2017 Islam Nusantara Center di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (28/12). Disebutkan, ketidakpuasan publik akan politik sektarian akan menjadi tantangan bangsa Indonesia.

Sebenarnya, indikasi pemindahan tegangan politik dari level elite ke level massa sudah terjadi sejak 2014. Saat itu, politik dinilai gagal menjadi sarana moderasi konflik, tetapi malah justru berbalik menjadi sarana mempertajam konflik dengan menyeret massa dalam ajang perebutan kekuasaan.

"Potensi konflik akibat tegangan politik masih akan membayangi kontestasi politik 2018 dan 2019," kata alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir itu. Dia menegaskan, kalangan santri yang mengusung Islam rahmatan lilalamin menjadi tumpuan mencegah politik kebencian tersebut.

Kondisi ini karena Indonesia adalah perwujudan Islam rahmatan lilalamin, yang beradab dan berbudaya, berdaulat, dan mampu melindungi umat yang beragam. Di satu sisi, negara-negara Barat juga mulai bersimpatik kepada keberislaman ala Indonesia. Banyak negara Timur Tengah ingin meniru Indonesia, tetapi mereka tidak memiliki modal dasar yang cukup untuk mewujudkannya, yaitu cinta tanah air.

"Karena itu, pemimpin Indonesia selayaknya tidak dapat dilepaskan dari sosok yang dapat menjaga dan memanifestasikan Islam yang moderat, Islam yang rahmat lilalamin," ucapnya. Dijelaskan, dalam survei Jaringan Santri pada 27 Desember 2017 juga menunjukkan bahwa 98% dari 5.000 responden mengharapkan pemerintah memperkuat Islam yang moderat dan santun.

Bahkan, hampir 90% masyarakat memandang bahwa ternyata isu SARA yang dimanfaatkan dalam menggoreng politik sektarian tidak menarik perhatian bagi masyarakat.

Sementara itu, dalam sejarahnya, hanya kalangan santri yang mampu menjadi representasi bagi kekuatan besar kelompok Islam yang moderat di Indonesia. Dalam konteks ini, munculnya salah satu tokoh santri, seperti Muhaimin Iskandar yang dinobatkan sebagai Panglima Santri Indonesia, dianggap bisa memberikan kekuatan bagi bangsa. (Mella Permata Sari)

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad


Mengenai Hak Jawab dan Hak Koreksi terkait pemberitaan www.zonasatu.co.id dapat dikonfirmasikan ke email redaksi zonasatu.redaksi@gmail.com