Rektor ITB Ajak Masyarakat dan Mahasiswa Kritis di Media Sosial - ZONASATU.CO.ID

Breaking

Home Top Ad

Wednesday, 14 February 2018

Rektor ITB Ajak Masyarakat dan Mahasiswa Kritis di Media Sosial

Media sosial saat ini sudah menjadi lahan subur bagi orang–orang tak bertanggung jawab untuk melakukan tindak kriminal seperti penipuan, cybercrime serta penyebaran berita palsu/hoax dan provokatif yang saat ini marak terjadi. Penyebaran informasi hoax dan isu provokastif menjadi suatu isu dan perbincangan hangat karena dianggap meresahkan publik karena juga dapat menimbulkan perpecahan di masyarakat yang juga dapat memecah belah bangsa

Untuk itu di  era digital, yang merupakan era informasi yang sangat cepat beredarnya berbagai macam informasi maka masyarakat dan generasi muda diminta berhati-hati dalam menggunakan media sosial. Hal ini agar masyarakat tidak mudah percaya terhadap isu-isu yang berkembang di media sosial. Demikian dikatakan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof.Dr.Ir. Kadarsah Suryadi, DEA.

Kepada masyarakat umum dan para generasi muda untuk bertindak lebih dewasa, jangan mudah termakan isu yang tidak jelas, terutama dari media sosial. Jangan mudah larut dalam suatu isu yang akan membawa kepada sesuatu yang tidak menguntungkan bagi kita terutama terhadap bangsa ini,” ujar Prof.Dr.Ir. Kadarsah Suryadi, DEA, di ITB, Bandung, Selasa, (13/2/2018).

Dikatakan Rektor ke-16 ITB ini, hal tersebut diperlukan agar masyarakat Indonesia dapat mempertahankan keutuhan masyarakat dan bangsa ini. Karena tanpa kita sadari banyak bangsa atau negara di luar sana yang bahagia kalau melihat negara Indonesia ini tidak aman, oleh karena itu merupakan tanggung jawab masyarakat Indonesia untuk mengamankan negara ini.

“Salah satunya tadi, jangan mudah termakan isu-isu yang tidak jelas. Maka bertindaklah dewasa dalam menyingkapi berbagai macam informasi yang beredar melalui media sosial ataupun media lainnya,” ujar pria kelahiran Kuningan, 22 Februari 1962 ini.

Dirinya menilai peran pemerintah sangat penting untuk ikut serta aktif dalam menghimbau kepada masyarakat agar tidak mudah terpengaruh hoax di media sosial. Drinya melihat dari Kementerian Komunikasi dan Informatika dan kementerian lainnya sudah sangat aktif, berperan seperti menjadi audiece ke berbagai perguruan tinggi  dan di acara publik lainnya.

Hal tersebut  untuk memberikan pembelajaran tentang pentingnya masyarakat untuk waspada terhadap media sosial terutama terhadap berita-berita yang tidak benar. Dan dirinya menyebut dengan CIS yakni Commitment, Enforcement, Support.

“Jadi Commitment baik dari pemerintah, perguruan tinggi dan juga masyarakat itu harus ada. Enforcement, itu harus melibatkan semua pihak untuk mengkampanyekan pentingnya kita menyikapi berbagai isu yang muncul di media sosial dan Support itu harus adanya peraturan, lalu adanya forum-forum yang kita pergunakan untuk bisa memberikan pencerahan kepada semua pihak,” ujarnya..

Untuk itu pria yang pernah menjabat Wakil Rektor bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB ini juga meminta perlunya adanya ketegasan dari pemerintah berupa sanksi yang tegas dan aturan yang jelas agar berita hoax dan isu provokatif lainnya tidak muncul di media sosial. “Dan ini harus disosialisasikan supaya semuanya bisa tahu tentang apa yang digariskan dalam peraturan itu,” ujarnya

Dirinya juga menjelaskan bahwa untuk mengantisipasi agar mahasiswanya tidak mudah termakan isu hoax atau hal-hal yang bersifat provokatif melalu media sosial, pihaknya telah menanamkan keilmuan komputer untuk dipakai dan dikembangkan bagi mahasiswanya sejak dini. Dan mahasiswa pun sadar bahwa di dalam dunia maya itu ada yang positif dan ada yang negatif.

“Lalu kita bekali mahasiswa itu mengenai cara memfilter dengan pembekalan-pembekalan soft skill agar mahasiswa punya empati, kepedulian sosial dan cinta tanah air dengan kuliah umum dengan mengundang pembicara pada level nasional  bahkan internasional. Tujuannya membekali para mahasiswa supaya makin sadar akan pentingnya peran mereka di dalam melindungi bangsa dan negara,” katanya.

Cara lain yang dilakukan pihaknya yakni membikin lomba hoax analyzer. Dimana mahasiswa ITB menjadi juara nasional dalam membuat software untuk menganalisis berita itu hoax atau tidak. Dan software ini pun telah ia publikasikan kepada para aktivis dan mahasiswa bahwa ini adalah hasil karya para mahasiswa yang diakui dunia yang menyadarkan bahwa tidak semua informasi di media sosial ini benar.

“Jadi ada software yang namanya hoax analizer, dan alhamdulillah ini membantu juga. Membantu supaya agar anak-anak itu tidak langsung menelan bulat-bulat apa yang ada di media sosial. Tapi mereka punya tools yang dibuat teman-temannya sendiri untuk memilah ini benar atau tidak, hoax atau bukan,” katanya. (Adri Irianto)

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad


Mengenai Hak Jawab dan Hak Koreksi terkait pemberitaan www.zonasatu.co.id dapat dikonfirmasikan ke email redaksi zonasatu.redaksi@gmail.com 

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
close