UMN dan BNPT Adakan Seminar Anti Radikalisme dan Terorisme Untuk Cegah Radikalisme di Kampus - ZONASATU.CO.ID

ZONASATU.CO.ID

Saluran Informasi Terkini

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Sunday, 27 May 2018

UMN dan BNPT Adakan Seminar Anti Radikalisme dan Terorisme Untuk Cegah Radikalisme di Kampus

Tangerang / ZonaSatu - Universitas Multimedia Nusantara (UMN) menyelenggarakan Seminar Anti Radikalisme dan Terorisme di Lecture Theatre Tower PK Ojong UMN pada Sabtu (26/5/2018). Seminar yang menghadirkan Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen. Pol. Ir. Hamli, ME. tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai Pancasila dan cinta Tanah Air dan upaya menyikapi maraknya gerakan radikal.

Pada kesempatan tersebut, Brigjen Pol Hamli menjelaskan tiga dimensi radikalisme dan terorisme, yakni dimensi pemahaman atau pemikiran, dimensi sikap dan dimensi tindakan. Dengan menyoroti dimensi yang pertama, Hamli mengingatkan kapada para mahasiswa bahwa radikalisme dan terorisme bisa berawal dari pikiran, yakni pikiran yang mengarah pada intoleransi.

“Radikalisme dan terorisme berawal dari sikap intoleransi. Intoleransi ini bisa lahir karena hal-hal yang terlalu diseragamkan, sehingga seseorang tidak terbiasa untuk menerima perbedaan. Ketika terbiasa dengan perbedaan, kita terbiasa untuk bertoleransi dengan perbedaan tersebut,” jelas mantan Kabid Pencegahan Detasemen Khusus (Densus) 88/Anti Teror Polri ini.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan,  radikalisme dan terorisme juga bisa lahir dari literasi yang rendah. Menurut UNESCO, Indonesia menduduki posisi ke-65 dari 70 negara dalam hal kecakapan literasi. Faktor rendahnya literasi memudahkan seseorang untuk membagikan kiriman pemberitaan yang mengandung unsur ajakan terorisme dan radikalisme.

“Jadi, hati-hati ketika menge-share sesuatu. Yang tidak bermanfaat jangan di-share. Sebelum di-share, disaring dulu, dilihat. Mungkin dua tiga hari kedepan, Undang-Undang Terorisme akan ditandatangani, karena kemarin sudah disahkan,” pria yang juga ahli meneliti bom ini.

Faktor rendahnya literasi juga memungkinkan seseorang menyebarkan teks keagamaan tanpa memahami konteksnya terlebih dahulu. “Padahal kalau kita beragama, seharusnya saat membaca sesuatu kita tidak tekstual, tetapi kontekstual,” alumni Teknik Kimia Institut Tekhnologi Sepuluh November Surabaya ini.

Lebih lanjut dirinya menghimbau kepada para peserta seminar untuk tidak mengasosiasikan radikalisme dan terorisme dengan agama tertentu. Hal itu dikarenakan radikalisme dan terorisme sudah melanda semua agama di dunia sejak jaman klasik, abad pertengahan, hingga jaman modern saat ini.

“Radikalisme dan terorisme tidak ada kaitannya dengan agama yang dianut oleh pelaku. Namun, orang-orang ini sering menggunakan agama untuk melegitimasi pekerjaannya, dengan menggunakan dalil-dalil yang ada,” lanjut kata pria yang juga ustad ini.

Bahkan menurutnya radikalisme dan terorisme juga sudah menyusup ke banyak pihak, mulai dari insitusi pemerintah, institusi swasta, organisasi massa, hingga lembaga pendidikan termasuk perguruan tinggi. 

"Saya mengingatkan kepada para mahasiswa untuk menolak segala bentuk paham yang mencurigakan di lingkungan kampus, misalnya paham yang mewajibkan seseorang untuk melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, seperti melakukan kekerasan tanpa alasan yang jelas," ucapnya.
Hamli menambahkan, untuk menolak paham mencurigakan, mahasiswa harus mengenal metode-metode perekrutan yang dilakukan oleh para pelaku radikalisme dan terorisme. Pada umumnya, ada dua metode perekrutan yang sering dilakukan, yakni secara online dan offline. 

Menurut Hamli, perekrutan online adalah yang paling harus diwaspadai mahasiswa, karena ini menjadi metode yang paling masif dilakukan sejak 5 tahun terakhir. Sedangkan untuk perekrutan metode offline, bisa datang dari diskusi-diskusi di lingkungan pertemanan, persaudaraan, bahkan keluarga.

“Keberadaan sebuah hubungan akan mempermudah penyebaran paham. Jadi (didalam) pertemanan itu hati-hati, kalau anda punya komunitas yang kelihatannya satu sama lain sudah mulai ada yang seperti ini (mencurigakan), ya hindari,” lanjut alumni Sepamilsuk ABRI tahun 1989 ini.

Pada akhir acara, pria asli Madura ini menasihati para mahasiswa untuk ikut mempertahankan keamanan dan kedamaian Indonesia. Salah satunya bisa dimulai dengan tidak dimulai mengkritik agama lain, sekaligus tidak mudah terdorong untuk melakukan perlawanan apabila bertemu dengan pelaku pengkritikan.

“Tidak semua anak-anak sebaya dengan Anda bisa bersekolah. Maka, jangan bergabung atau mengikuti orang-orang seperti ini (radikal). Selesaikan sekolah, senangkan kedua orang tua, supaya bisa lebih mandiri dan memperoleh kehidupan yang lebih baik,” kata mantan Analis Kebijakan Madya Bidang Penindakan Densus 88/Antiteror Polri ini.

Turut hadir dalam seminar tersebut, Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan Ika Yanuarti, Ketua BEM UMN Julian Rizki dan Wakil Ketua BEM Rosemarie Vania. 

Reporter : Agus W
Sumber : UMN

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad


Mengenai Hak Jawab dan Hak Koreksi terkait pemberitaan www.zonasatu.co.id dapat dikonfirmasikan ke email redaksi zonasatu.redaksi@gmail.com