Halal Bihalal Menag Bersama Rektor Bahas Radikalisme di Kampus - ZONASATU.CO.ID

ZONASATU.CO.ID

Saluran Informasi Terkini

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Saturday, 30 June 2018

Halal Bihalal Menag Bersama Rektor Bahas Radikalisme di Kampus

Jakarta/ZonaSatu - Menteri Agama RI Lukman Hakim Syaifuddin menggelar halal bihalal sekaligus berdiskusi tentang masuknya paham radikalisme di kampus dengan mengumpulkan para rektor Universitas dan Perguruan Tinggi Islam yang tergabung dalam Forum Rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di rumah dinasnya Komplek Widya Chandra, Jakarta, Jumat (29/6/2018). Diskusi ini bertujuan untuk menanggulangi paham-paham radikalisme yang tersebar di lingkungan kampus.

Acara tersebut dihadiri oleh sekitar 57 Rektor UIN dan IAIN serta STAIN dari seluruh indonesia dan pejabat pejabat tinggi di lingkungan Kemenag. Hadir sebagai pembicara Prof Dr. Azyumardi Azra (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah) dan Brigjen Pol Hamli ME (Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme/BNPT), serta pengantar diskusi oleh Prof Phil Kamaruddin Amin (Pendais Islam Kemenag).

Menurut Amin, pelaksanaan kegiatan ini bertujuan untuk membangun sinergitas semua rektor untuk sama sama bekerja menanggulangi paham yang berinfiltrasi ke dalam kampus. Kebebasn berrdialog dan diskusi di lingkungan kampus merupakan sesuatu yang mutlak, namun perlu diwaspadai karena 
jangan sampai hal hal tersebut menjadi ideologi mereka.

Sementara itu Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Hamli menjelaskan pihaknya sangat apresiasi dengan kegiatan ini dan menegaskan bahwa UIN dan IAIN merupakan harapan utama dalam membendung radikalisme di kampus. Radikalisme yang berkembang di tanah air saat ini tidak terlepas dari perkembangan yang terjadi di kawasan timur tengah. Selain itu ideologi yang diusung oleh mereka bertentangan dengan paham-paham keislaman yang ada di Indonesia.

“Dalam merekrut pengikut mereka menggunakan berbagai cara mulai dari penerimaan mahasiswa hingga pemberian beasiswa untuk dipersiapkan untuk memimpin di berbagai lini di masa yang akan datang,” ungkap Hamli.

Hamli mengungkapkan, ada dua faktor yang membuat paham radikal masuk ke lingkungan perguruan tinggi, salah satunya yakni kurangnya pemahaman agama. "Jadi pertama, pemahaman anak-anak yang kurang tentang agama," ujar alumni Sepamilsuk AMBRI tahun 1989 ini.

Selanjutnya, lanjut mantan Kabid Pencegahan Densus 88/ Anti Teror Polri ini, kurangnya pengetahuan tentang wawasan kebangsaan. "Sehingga faktor itulah perlu didorong untuk menanggulangi radikalisme menyebar di lingkungan kampus," ujar pria yang dalam karirnya di Polri juga menjadi peneliti tentang bahan peledak .

Menurutnya, untuk memahami Islam maka perlu pemahaman secara komprehensif, sehingga tidak hanya berpatokan pada satu tafsir saja. Hal itu dimaksud agar tidak mudah terjebak pada isu-isu yang ada.

"Memahami Islam, tidak hanya satu penafsiran saja, tapi harus komprehensif. Sehingga tidak terjebak hanya itu-itu aja," kata alumni Teknik Kimia ITS Surabaya ini.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Agama RI, Lukman Hakim mengatakan, cara menanggulangi radikalisme di lingkungan kampus ialah dengan memaksimalkan konten-konten positif. Selain mahasiswa, para dosenpun harus diberikan pemahaman secara menyeluruh terkait Islam agar tidak menyebarkan ajaran Islam yang salah.

Menurutnya, setiap mahasiswa harus diwajibkan punya pengetahuan dasar tentang ilmu keislaman, begitu juga dengan para dosen terutama pada fakultas umum. "Ini adalah sisi-sisi preventif yang kita bisa lakukan di ruang lingkup dan kewenangan kita," ujarnya.

Ia berharap para rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) seluruh Indonesia, untuk fokus terhadap isu radikalisme. "Mari kita mulai dari lingkup yang bisa kita lakukan tanpa harus menyalahkan orang lain, itu bukan tradisi kita," katanya.

Sementara itu Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Prof Azyumardi Azra menegaskan bahwa masuknya radikalisme di kampus sudah tidak perlu lagi ditutupi bukan saja di kampus umum tapi juga di kampus-kampus agama. Ini suatu tantangan bagi semua pemangku kebijakan di kampus agar sungguh- sungguh membenahi masalah yang berkembang di kampus yang dapat mengancam falsafah-falsafah negara.

"Kami menghimbau agar kampus betul betul memberikan dorongan kepada mahasiswa agar benar-benar mendalami agama secara komprehensif bukan pemahaman agama yang ekstrim. Juga penanaman nilai-nilai lokal Pancasila dan Kebhinnekaan harus kembali ditumbuhkan di kampus-kampus sehingga mahasiswa paham tentang negara dan bangsanya," ujar pria yang juga anggota kelompok ahli BNPT bidang agama ini.

Dirinya juga mengusulkan agar harus ada kontra wacana di lingkungan kampus dalam menghadapi paham-paham transnasional antara lain mengaktifkan organisasi organisasi kampus seperti sebelumnya, bukan organisasi organisasi yang baru seperti LDK dan KAMMI. ia juga mengingatkan agar para rektor memantau secara ketat kampus mereka masing masing sehingga sarana-sarana kampus tidak menjadi sarana yang dimanfaatkan oleh kelompok kelompok radikal.

“Para rektor harus bisa memainkan peran yang lebih signifikan di kampus masing masing dalam upaya membendung pertumbuhan radikalisme di kampus karena pelaku pelaku teroris tidak mengenai asal mereka belajar,” tegas Azyumardi.

Reporter : M. Tariez
Sumber :

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad


Mengenai Hak Jawab dan Hak Koreksi terkait pemberitaan www.zonasatu.co.id dapat dikonfirmasikan ke email redaksi zonasatu.redaksi@gmail.com