Menang di Pilkada Jangan Jemawa, Kalah Pun Harus Ikhlas - ZONASATU.CO.ID

ZONASATU.CO.ID

Saluran Informasi Terkini

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Friday, 29 June 2018

Menang di Pilkada Jangan Jemawa, Kalah Pun Harus Ikhlas

Jakarta/ZonaSatu - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak telah digelar di 171 daerah dengan lancar dan aman pada Rabu (27/6/2018). Meski dinamika pasca Pilkada serentak tetap terjadi di beberapa daerah, mamun nama-nama calon kepala daerah baru pun telah mengemuka. Berkat kecerdasan seluruh masyarakat dalam mengamalkan nilai-nilai luhur bangsa, menjadikan Pilkada serentak 2018 ini menjadikan keberhasilan demokrasi di Indonesia.  

“Ini sangat membanggakan. Karena suksesnya Pilkada serentak 2018 ini merupakan kemenangan akan kepentingan bangsa diatas kepentingan golongan. Dan secara moral adalah buah dari keikhlasan semua pihak sebagai bangsa Indonesia yang cinta damai dan menjunjung tinggi persatuan,” kata Staf Ahli Menko Polhukam DR. Sri Yunanto di Jakarta, Jumat (29/6/2018).

Sri Yunanto meminta bagi kelompok yang calonnya menang tidak usah jemawa karena Pilkada ini adalah awal dari pengabdian politik. Begitu juga yang kalah, harus ikhlas dan tidak usah berkecil hati karena kedepan mereka tidak berurusan dengan orang, tapi dengan kinerja pemimpin daerah masing-masing. Kalaupun ada masalah yang tidak wajar atau bahkan melanggar hukum, harus diselesaikan melalui jalur hukum.

“Jangan menggunakan fisik, apalagi kekerasan, karena itu akan merusak demokrasi dan sendi-sendi persatuan dan kesatuan bangsa yang selama ini sudah kita bangun,” imbuh Sri Yunanto.

Pria yang juga pengamat politik islam ini mengatakan, keberhasilan Pilkada serentak 2018 ini menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia mampu menjalani proses demokrasi yang sehat, kompetetif, dan nantinya akan memuaskan. "Tetapi ini tidak menjamin pesta-pesta demokrasi berikutnya bebas dari masalah seperti kampanye hitam, hoax, hate speech (ujaran kebencian), radikalisme dan terorisme," ujarnya. 

Ia mengakui, pelaksanaan Pilkada maupun Pilpres sangat resisten dengan masalah sosial dan politik. Pertama persoalan terorisme, bahwa demokrasi menjadi pilihan rakyat Indonesia. "Dengan segala plus dan minusnya, demokrasi menjadi sistem atau mekanisme dimana rakyat menyalurkan suara dan kepentingannya, mempercaya politisi untuk memperjuangkan kepentingannya. Tapi biasanya demokrasi itu ditentang kelompok radikal," ujanrya.

Sri Yunanto dalam analoginya mengatakan, demokrasi itu sama dengan sepakbola. Kadang menang, kadang kalah, dan itu menjadi hal yang wajar. Jadi siapa pun yang masuk kontestasi demokrasi, apakah itu politisi atau masyarakat umum, harus siap menang dan siap kalah, dan harus ikhlas.

“Sebagaimana Piala Dunia, ada yang lolos ada yang pulang lebih dulu. Itu harus diterima. Jadi demokrasi itu tidak hanya berhenti di Pemilu, maka nanti para pendukung calon kepala daerah yang kalah, harus bisa menggeser pemikirannya, bukan lagi siapa yang kita dukung, tapi agenda apa yang yang kita perjuangkan,” terang Sri Yunanto.

Yunanto menilai, sukses Pilkada serentak ini menjadi bukti demokrasi di Indonesia sudah berada di relnya. Hal itu dilihat dari sistem Pemilu mulai dari zaman setelah Kemerdekaan, orde baru, dan sekarang. Demokrasi, kebebasan memilih informasi, media, telah mendidik bangsa Indonesia menjadi cerdas dan jauh dari apa yang diperkirakan orang.  

"Meskipun  masih ada yang ‘menyerang’ demokrasi dengan mengatakan bahwa demokrasi tidak sesuai ajaran agama  Demokrasi ini soal muamalah. Jadi sangat jelas, konsep demokrasi dan agama itu tidak sama,” tegas Sri Yunanto mengakhiri.

Reporter : Adri Irianto
Sumber :

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad


Mengenai Hak Jawab dan Hak Koreksi terkait pemberitaan www.zonasatu.co.id dapat dikonfirmasikan ke email redaksi zonasatu.redaksi@gmail.com