Tim survei Papua Terang Dikabarkan Diserang KKSB, 5 Anggota TNI Terluka - ZONASATU.CO.ID

ZONASATU.CO.ID

Saluran Informasi Terkini

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Monday, 6 August 2018

Tim survei Papua Terang Dikabarkan Diserang KKSB, 5 Anggota TNI Terluka

Jayapura,/Zonasatu - Tim survei Papua Terang, yang beranggotakan 33 orang, dikabarkan diserang oleh kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) saat berada di Kampung Bokoa, Distrik Wagemuga, Kabupaten Paniai, Papua. Dari serangan itu mengakibatkan lima anggota TNI mengalami luka-luka dan tiga pucuk senjata milik TNI dirampas kelompok tersebut.

Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Muhamad Aidi membenarkan adanya penyerangan terhadap tim survei Papua Terang tersebut yang dikawal anggota TNI. Aidi mengatakan tim itu diserang saat melakukan pengambilan gambar di beberapa kampung yang ada di wilayah tersebut.

"Iya benar, tim survei Papua Terang diserang KKSB saat berada di Kampung Bolos, Kabupaten Paniai, setelah melakukan pengambilan gambar di tujuh kampung di wilayah tersebut," ujar Aidi saat dimintai konfirmasi, Senin (6/8/2018).

Aidi menjelaskan tim survei Papua Terang itu berjumlah sebanyak 17 orang. Mereka terdiri atas 3 tenaga ahli PLN, 3 tenaga sukarela, dan 11 mahasiswa, yang terdiri atas 4 mahasiswa dari Universitas Indonesia dan 7 mahasiswa dari Universitas Cenderawasih. Tim putra-putra terbaik asli Papua itu dipimpin Sugiri sebagai koordinator sekaligus pendamping. Ditambah 16 personel pasukan pengamanan dari TNI, mereka berangkat dari Bandara Paniai menuju Distrik Wagemuga, Kabupaten Paniai, menggunakan 2 unit speedboat.

Secara kronologis Aidi menceritakan, awalnya tim survei yang tiba pada pukul 08.00 WIT melakukan pengambilan gambar disambut baik masyarakat Distrik Wegemur. Tim juga sempat mengabadikan gambar tujuh Kampung, yaitu Kampung Muyadebe, Kampung Kegomakida, Kampung Uwamani, Kampung Bokoa, Kampung Ugitadi, Kampung Dapaiba, dan Kampung Kinou, hingga akhirnya tim dicegat oleh tiga warga.

"Selama melewati ketujuh kampung tersebut, tim mendapat sambutan dari masyarakat. Namun, saat tiba di Kampung Kinou, tim dihentikan oleh tiga orang dan diminta kembali karena tidak membawa surat izin dari pemda," ujar alumni Akmil tahun 1996 ini.

Aidi mengatakan Serma Alpius Gobay selaku Komandan Tim (Dantim) Pengamanan yang juga putra asli Papua berusaha bernegosiasi dengan ketiga warga tersebut, tapi mereka tetap meminta tim survei meninggalkan lokasi. Untuk menghindari bentrokan, tim akhirnya balik kanan menuju Pelabuhan Kampung Muyadebe, Distrik Wagemuka. Saat di Kampung Bokoa, sekitar 50 anggota KKSB membawa senjata laras panjang, panah, parang, hingga kapak mengejar tim.

Tak berselang lama, sekitar 30 orang KKSB keluar dari rumah warga beserta puluhan warga lainnya yang juga membawa sekitar 20 pucuk senjata laras panjang beserta panah, kapak, dan parang mengepung tim survei.

"Mereka mengeluarkan tembakan secara membabi buta dan berusaha merampas senjata milik TNI. Anggota TNI di bawah pimpinan Serma Alfius Gobay berusaha melakukan perlawanan untuk mempertahankan senjatanya. Namun, karena jumlah yang tidak imbang, akhirnya KKSB berhasil merampas 3 pucuk senjata senapan panjang," ujar mantan Dandim 1714/Puncak Jaya ini.

Beberapa warga setempat juga sempat memberikan perlindungan kepada tim survei dan mengusir anggota KKSB. Menghindari jatuhnya korban masyarakat sipil, Serma Alifius Gobay memerintahkan seluruh anggotanya untuk tidak mengeluarkan tembakan.

"Akibat kejadian tersebut, beberapa anggota TNI mengalami luka-luka, antara lain Serma Alfius Gobay mengalami bibir pecah kena pukulan benda tumpul, Sertu Yauji luka memar di bagian punggung sebelah kiri kena pukulan balok, Sertu Hardi luka lebam di muka, Kopda Karyadi luka sobek di atas pelipis dan kaki kanan kena kapak, Prada Irfannudin luka sobek kepala belakang, sedangkan tim survei lainnya dalam keadaan aman dan saat ini seluruh korban telah dievakuasi ke Paniai," terang Aidi.

"Selanjutnya korban Kopda Karyadi dan Prada Irfandi mendapat perawatan medis di RSUD Kabupaten Paniai," kata pria yangdalam karir militernya dibesarkan di korps 'Baret Merah' Kopassus TNI-AD ini.

Aidi mengatakan tim ini terdiri atas para mahasiswa. Mereka melakukan survei lapangan untuk mendukung program Papua Terang, yang diharapkan agar seluruh masyarakat di pedalaman Papua bisa menikmati penerangan listrik . Namun sangat disayangkan karena adanya sekelompok orang selalu menghambat proses pembangunan di tanah Papua melakukan tindakan kekerasan dan tidak ber-Prikemanusiaan

“Mereka ini mempersenjatai diri secara Illegal dan selalu membuat kekacauan di tanah Papua, dengan dalih perjuangan kemerdekaan Papua pisah dari NKRI. Padahal merekalah yang telah merampas kemerdekaan Masyarakat Papua. Mereka menciptakan terror, melakukan pembantaian baik terhadap masyarakat sipil maupun terhadap aparat keamanan,” kata mantan Perwira Penerangan Kopassus ini mengakhiri

Penulis : Noor Irawan
Sumber : -

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad


Mengenai Hak Jawab dan Hak Koreksi terkait pemberitaan www.zonasatu.co.id dapat dikonfirmasikan ke email redaksi zonasatu.redaksi@gmail.com