Berbagai Dinamika Pilpres Takkan Mampu Goyahkan NKRI Jika Masyarakat Berpegang Teguh Pada Pancasila - ZONASATU.CO.ID

ZONASATU.CO.ID

Saluran Informasi Terkini

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Tuesday, 16 October 2018

Berbagai Dinamika Pilpres Takkan Mampu Goyahkan NKRI Jika Masyarakat Berpegang Teguh Pada Pancasila

Jakarta/ZONASATU -  Ideologi Pancasila terbukti ampuh menjaga NKRI. Sejak bangsa Indonesia merdeka 73 tahun lalu, Pancasila mampu menghalau berbagai ancaman dan gangguan yang ingin memecah belah NKRI. Apalagi menjelang Pemilihan Presiden (Pilres) 2019, bila bangsa Indonesia tetap berpegang teguh pada Pancasila, dinamika yang terjadi akhir-akhir ini sudah sangat gaduh pasti tidak akan mampu menggoyangkan persatuan dan kesatuan Indonesia.

“Ideologi Pancasila telah diuji sepanjang bangsa kita lahir. Kalau sekarang di masa gaduh politik, ada pihak tertentu yang ingin memecah NKRI, maka hanya bangsa kita sendiri yang bisa menyelesaikan tidak bisa dibantu bangsa lain,” ujar Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Prof. Dr. Syaiful Bakhri, SH, MH di Jakarta, Senin (15/10/2018).

Dikatakan Syaiful, bangsa Indonesia harus berdikari dalam politik dengan mengutamakan kepentingan nasional, bukan kepentingan ormas maupun politik. "Untuk mewujudkan perdamaian kembali dan cita-cita luhur bangsa yang adil dan makmur, tidak ada pilihan lain kecuali kembali memperkuat Pancasila yang ditopang oleh agama-agama yang ada di Indonesia, dan Ormas keagamaan, yang bisa menjadi tali perekat bangsa Indonesia," ujarnya.

Bila fungsi ini berjalan dengan baik menurutnya, hal tersebut akan menjadi pagar NKRI. Ditambah dengan soliditas TNI/Polri sebagai penopang utama. TNI/Polri harus berkeadilan dalam menghadapi ancaman dan provokasi yang mengarah pada kepentingan kelompok tertentu.

"Tapi itu juga tidak akan berarti, bila tidak didukung garda terdepan lainnya yaitu Ormas keagamaan. Kolaborasi itu bisa menjadi ‘wasit’ di setiap pergelaran demokrasi seperti sekarang ini," ujar pria yang juga anggota Kelompok Ahli BNPT bidang Hukum ini.

Ia yakin Indonesia bisa keluar dari isu-isu yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan. Hal ini, ungkap Syaiful, tidak lepas dari keberadaan media, apakah itu media konvensional maupun media sosial (medsos). Menurutnya, media yang baik harus bisa memberikan informasi yang baik dan mencerahkan masyarakat. Pun masyarakat juga harus pandai memaknai informasi dengan mengedepankan kata hati dan jiwa, lalu menyaringnya sebelum menyebarkan informasi tersebut.

"Ini penting agar informasi disebarkan membawa kebaikan dan sesuai dengan tujuan bangsa Indonesia yaitu menciptakan masyarakat adil dan makmur, bukan yang lain," kata mantan Wakil Ketua Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini.

Ia menjelaskan, bahwa di alam demokrasi, perbedaan pendapat itu adalah hal yang biasa. Sejak dilakukan sistem demokrasi langsung telah beberapa kali dilakukan Pilkada, Pileg, dan Pilpres, keadaan tetap kondusif dan membanggakan. Itu karena bangsa Indonesia sudah semakin dewasa dalam berdemokrasi.

Apalagi di tahun 2019, ungkap Syaiful, bangsa Indonesia akan menghadapi Pemilu bersamaan antara Pilres dan Pileg. Kesibukan itu sudah mulai terlihat dengan medsos begitu bebas, yang dimiliki setiap orang dengan berbagai macam pendapat yang sensitif. Bahkan ketegangan masih ada dan tidak berakhir, tapi semakin memuncak, diikuti pula oleh isu penyebaran informasi yang tidak benar ataupun pendapat pakar yang pada akhirnya menjadi pegangan buat setiap orang

“Mestinya ketika menerima sebuah informasi, masyarakat harus pandai mengendapkan, meneliti, baru kemudian berpendapat. Informasi itu tidak selamanya bermanfaat, meski penting. Informasi yang baik adalah informasi untuk merekatkan persatuan dan kesatuan. Informasi yang menguatkan
makna hidup bermasyarakat dengan ideologi Pancasila,” papar pria kelahiran Kotabaru, Kalimantan Selatan, 20 Juli 1962 lalu.

Sayangnya, kegaduhan jelang Pilpres ini terjadi bersamaan dengan musibah gempa bumi, tsunami, banjir yang terjadi di Lombok, Palu, Donggala, dan Sigi. Yang mengakibatkan penderitaan rakyat terdampak bencana tersebut. Yang terjadi justru banyak pihak yang menjadikan bencana itu sebagai komoditi politik, bahkan hoax.

"Sebagai bangsa yang santun, harus memaknai lebih jauh peristiwa tersebut dengan mengoreksi diri agar keadaan ini tidak berlanjutan. Karena itu, informasi yang sifatnya propaganda pada sebagian golongan hendaknya bisa diredam, atau bahkan diakhiri saja  agar keseimbangan berpolitik dan empati kemanusiaan bisa dikedepankan demi keutuhan NKRI," ujarnya mengakhiri.

***
Penulis : Adri Irianto
Sumber : -

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad


Mengenai Hak Jawab dan Hak Koreksi terkait pemberitaan www.zonasatu.co.id dapat dikonfirmasikan ke email redaksi zonasatu.redaksi@gmail.com