Mewaspadai Serbuan TKA China ke Indonesia Mirip Upaya Jepang Kolonisasi Davao Filipina - ZONASATU.CO.ID

Breaking

Home Top Ad

Tuesday, 12 February 2019

Mewaspadai Serbuan TKA China ke Indonesia Mirip Upaya Jepang Kolonisasi Davao Filipina


Membanjirnya Tenaga Kerja Asing asal China ke Indonesia yang dikemas dengan dalih bagian dari kerjasama investasi Indonesia - China hingga saat ini memang masih menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Bahkan tidak sedikit yang meraba-raba tentang motif kepentingan lainnya yang sedang direncanakan oleh China terhadap negeri berpenduduk 265 juta jiwa ini.

Anggapan tentang upaya China untuk "mengkolonisasi" Indonesia pun bermunculan seiring dengan bertambahnya jumlah TKA asal China yang nyaris tidak dapat dibendung. Menurut informasi yang diperoleh dari berbagai sumber, TKA yang masuk ke Indonesia jumlahnya diperkirakan mencapai dua jutaan. Namun oleh Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Hanif Dhakiri hal itu dianggapnya sebagai rumor belaka.

Terlepas dari rumor atau tidak, masuknya TKA asal China yang berdatangan setiap hari melalui jalur  udara dan laut bahkan diantaranya diketahui membuka lahan untuk pemukiman jauh dari pengawasan harus diwaspadai. Karena tidak seluruhnya para TKA tersebut dapat dideteksi keberadaannya oleh pihak keimigrasian.

Indonesia harus belajar pada sejarah pendudukan Jepang di Davao Filipina di era pra Perang Dunia ke II tahun 1900 hingga 1939. Dimana Jepang tengah berupaya mengkolonisasi salah satu wilayah Filipina secara perlahan dengan kedok investasi dan pekerja asing. Davao adalah salah satu wilayah Filipina yang saat itu berada dibawah kontrol pemerintahan Jepang dan kaya dengan hasil perkebunan.

Semua berawal dari niat Jepang yang ingin mengirim warga ke Davao untuk membantu meningkatkan produktifitas perkebunannya di Filipina. Akan tetapi dengan semakin bertambahnya nilai investasi dan bisnis yang dimiliki Jepang di daerah tersebut, Jepang akhirnya membangun berbagai fasilitas seperti sekolahan, Bank, rumah sakit, rumah peribadatan hingga media massa untuk warga negaranya disana. Jepang berhasil menyulap Davao menjadi "Tokyo Kecil" dimana kehidupan warga Jepang lebih mendominasi daripada penduduk lokal.

Salah satu sekolah di Davao Filipina yang mengibarkan bendera kebangsaan Jepang sejajar dengan Bendera Filipina
Harapan adanya asimilasi budaya antara warga lokal dengan pendatang pun tidak terjadi karena warga Jepang merasa status sosialnya lebih esklusif. Amerika yang saat itu masih mengendalikan pemerintahan Filipina demi menyelamatkan keberadaan warga lokal akhirnya berencana mengeluarkan undang - undang perlindungan ekonomi bagi warga lokal. Tapi sebelum undang-undang tersebut terbentuk, Perang Dunia ke II keburu pecah.

Berkaca pada sejarah diatas harusnya pemerintah lebih berhati-hati dan waspada dalam menyikapi banjirnya TKA China yang menyerbu Indonesia akhir-akhir ini.

Meningkatnya jumlah tenaga kerja asing (TKA) asal China telah sangat meresahkan warga Negara Indonesia. Selain merebut banyak lapangan pekerjaan, kehadiran mereka pun dicurigai membawa agenda terselubung selain kerjasama investasi antar dua Negara.

Yang memperihatinkan lagi, pemerintah seolah-olah menutup mata dengan banjirnya para TKA asal China ini, bahkan Presiden Jokowi dalam beberapa kesempatan meminta agar masuknya TKA asal China lebih dipermudah tanpa proses berbelit.

Sehingga tidak mengherankan jika kebijakan Presiden Jokowi akhirnya menimbulkan penolakan keras dari warga negaranya yang semakin hari seperti tersisihkan. Tidak hanya itu, perbedaan perlakuan antara TKA asal China dengan penduduk lokal juga kerap menimbulkan gesekan keras.

Pekerja lokal desak Polri usut TKA yang terlibat pemukulan terhadap salah satu pekerja lokal di PLTU Jawa 7
Seperti yang terjadi pada kasus pertikaian antara TKA asal China dengan pekerja lokal di Konawe, Sulawesi Tenggara (7/3/2017). Seorang pekerja lokal terlibat bentrok dengan TKA asal China di PT. Virtue Dragon Nikel Industri karena dipicu adanya perbedaan perlakuan. Tidak hanya itu, perbedaan gaji yang sangat mencolok juga menimbulkan adanya kecemburuan antara pekerja lokal dengan TKA China yang tentunya menimbulkan keprihatinan.

Sekitar Juni - Desember 2017, Ombudsman lembaga negara yang berwenang melakukan pengawasan dan penyelenggaraan pelayanan publik di seluruh tanah air melakukan investigasi di tujuh provinsi Indonesia yang didominasi oleh TKA asal China mendapatkan adanya temuan yang sangat mengejutkan.

Seperti yang diungkapkan oleh Komisioner Ombudsman Laode Ida saat jumpa pers (27/4/2018) membeberkan hasil temuannya jika Ombudsman telah menemukan adanya perbedaan gaji yang sangat mencolok antara pekerja lokal dengan pekerja asing. Sebagai gambaran, seorang sopir asal Indonesia di sebuah perusahaan setiap bulannya digaji Rp. 5 Juta, sedangkan diposisi yang sama pekerja asing asal China digaji sebesar Rp. 15 Juta. Perbedaan angka yang sangat signifikan yakni sekitar dua sampai tiga kali lipat, dan yang sangat memprihatinkan lagi bagi Laode adalah gaji para TKA langsung ditransfer ke Bank asal negaranya oleh masing-masing kontraktor ketenagakerjaan tanpa dipotong pajak yang jelas-jelas sangat merugikan negara.

Serbuan para TKA asal China ke Indonesia membuat pihak imigrasi harus bekerja ekstra untuk melakukan pengawasan terkait keluar masuknya para TKA yang masuk dengan berbagai cara yang diantaranya sebagai imigran gelap. Repotnya lagi para TKA yang masuk ke Indonesia memiliki banyak motif yang tidak seluruhnya diketahui oleh pihak keimigrasian. Sejumlah aktifitas ilegal kerap dilakukan oleh para TKA secara sembunyi-sembunyi seperti terlibat dalam bisnis online, penipuan online, bisnis judi, hingga membuka lahan perkebunan di tanah orang.

Hal ini tentunya akan sangat berbahaya bagi kelangsungan warga negara Indonesia yang pastinya akan terpinggirkan dengan semakin bertambahnya jumlah para TKA asal China ke Indonesia.

Menurut sebuah dokumen mengenai proyeksi yang akan datang bertajuk  Global Trends 2030 : Alternative Worlds. a publication of the National Intelligence Council yang diterbitkan oleh National Intelligence Council Amerika, pada tahun 2016, China akan mengalami ledakan usia produktif angkatan kerja, yaitu sekitar 994 juta jiwa dan akan meningkat menjadi 961 juta jiwa di tahun 2030.  Angkatan kerja ini bisa jadi akan menjelma sebagai sebuah bom sosial jika tidak disalurkan. Karenanya, invasi ekonomi China di negara-negara asing bisa dipastikan turut pula memboyong pekerja-pekerja mereka ke luar sebagai bentuk penyaluran angkatan kerja yang membludak.

Dalam dokumen Global Future Institute (GFI), Jakarta, dikatakan bahwa pola kolonialisme ala Tiongkok memang cenderung memakai ‘Pendekatan Panda’ (simpati) melalui investasi, pembangunan infrastruktur,  capacity building, hibah, dan lain-lain. Tentu berbeda sekali dengan pola ala barat yang cenderung usil memainkan isu demokratisasi, lingkungan, HAM, dan lainnya guna memasuki kedaulatan negera lain, dimana ujungnya seringkali pendudukan militer dengan aneka dalih.

Disinyalir kedatangan warga dan TKA Cina merupakan bagian dari upaya Beijing membangun Lebensraum, sebuah konsep ruang hidup yang dulu juga dikembangkan rejim NAZI dengan istilah Lebensraum. Sebuah sphere of influence (lingkaran pengaruh) yang ingin mengokohkan kedudukan Negeri Panda di wilayah sekitarnya, terutama Asia Tenggara.


***
Penulis : Ahmad Budi Setiawan
Sumber : dari berbagai sumber

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad


Mengenai Hak Jawab dan Hak Koreksi terkait pemberitaan www.zonasatu.co.id dapat dikonfirmasikan ke email redaksi zonasatu.redaksi@gmail.com 

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
close