Indonesia Terbebas dari Paham Radikal Terorisme karena Punya Modal Sosial Tangguh - ZONASATU.CO.ID

Breaking

Home Top Ad

Wednesday, 14 August 2019

Indonesia Terbebas dari Paham Radikal Terorisme karena Punya Modal Sosial Tangguh

Jakarta, ZONASATU - Di usia ke-74 tahun Kemerdekaanya, Indonesia menjadi bangsa yang semakin dewasa dan harus mampu bersaing dengan negara-negara lain agar dapat unggul dalam berbagai aspek. Untuk mencapai cita-cita Indonesia unggul di segala bidang, tentumya harus dimulai dari kebersamaan untuk melawan berbagai problem kebangsaan salah satunya radikal terorisme.

Guru Besar Psikologi Politik dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Hamdi Muluk, M.Si, mengatakan bahwa  di usia Kemerdekaan Indonesia yang ke-74 tahun ini sebenarnya seluruh potensi yang dimiliki bangsa Indonesia untuk maju itu sangat ada, seperti Sumber Daya Alam (SDA) yang bagus dengan ditunjang, letak geografis yang strategis.

“Sebagai sebuah bangsa, kita sebenarnya punya modal sosial yang cukup besar yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika. Apa yang sudah diwariskan dari para founding fathers kita itu adalah modal yang besar, termasuk didalamnya bahasa persatuan. Dan itu sudah berhasil kita lewati, karena sampai hari ini kita tidak terpecah dan masih tetap utuh yang tentunya semua itu adalah sebuah modal sosial yang besar dan tangguh untuk bisa maju,” ujar Prof. Dr. Hamdi Muluk, M.Si, di Jakarta, Rabu (14/8/2019)..

Dan modal sosial ini menurut Hamdi sangat penting, karena untuk majunya sebuah negara itu perlu banyak modal. Dirinya menyebut modal tersebut, pertama yakni modal kekayaan Sumber Daya Alam yang sifatnya fisik material.  Kedua, kalau orang mau maju untuk membangun proyek nasional yang namanya  national building seperti yang dikatakan Ir Soekarno pada waktu itu. 

National building ini maksudnya adalah membangun bangsa yang sejahtera, lahir fisik sesuai dengan cita-cita Kemerdekaan yaitu memajukan kehidupan bangsa, memajukan perikehidupan dan sebagainya sesuai dengan UUD 1945.  Untuk membangun National building ini modal dasarnya, pertama, fisik material yaitu, Sumber Daya Alam, kedua, uang atau finansial, dan  ketiga, yaitu Sumber Daya Tekhnologi,” ujarnya menjelaskan. 

Dengan modal tersebut menurutnya, lalu ada pemikiran sosial dengan memakai istilah capital, baik itu natural capital, ekonomic capital, tecnological capital. Namun hal tersebut tentu tidak cukup untuk bisa maju kalau bangsa itu isinya konflik, tidak ada keamanan, tidak ada rasa saling percaya, lalu di susupi  ideologi radikalisme. Untuk itulah tentunya juga diperlukan modal sosial agar dapat maju.

“Modal sosial untuk maju itu hanya bisa dipupuk dengan rasa nasionalisme, percaya antar sesama anak bangsa, tidak ribut terus, semangat persatuan supaya kita memiliki apa yang disebut dengan  kohesi sosial. Jadi secara sosial kita ini kohesi atau merasa satu,” kata pria yang juga menjadi anggota Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Koropsi (Pansel Capim KPK) ini.

Dikatakan Hamdi, Kohesi Sosial ini sangat diperlukan agar bangsa atau negara itu bisa maju. Karena tidak mungkin ada negara bisa maju kalau social capitalnya rendah. Indonesia sendiri bisa berdiri, karena social capitalnya yang dibangun terlebih dahulu. Bahkan pada waktu Republik ini berdiri, para founding fathers kita ini sebenarnya cuma punya rasa saling percaya saja. 

“Karena adanya perasaan, senasib, sepenanggungan, rasa saling percaya, lalu menciptakan bahasa yang sama, dari situlah lahirlah Sumpah Pemuda pada tahun 1928, yang kemudian sepakat untuk membuat Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan dasarnya harmoni itu.,” ujarnya.

Sehingga Pancasila ini bisa dikatakan semacam ideologi kompromi, yang menurutnya oleh para ahli sosial disebut sebagai ideology of tolerant. “Yang mana sebuah ideologi yang mentoleransi semua perbedaan supaya modal sosial kita untuk merdeka itu bisa semakin kuat. Itu modal sosial yang kita miliki,” ucapnya..

Menurutnya,  dengan modal sosial yang sudah dimiliki tersebut maka masyarakat bangsa ini harus merawatnya dengan baik. Karena modal sosial ini seperti tabungan dan menjadi sebuah investasi. Kalau modal sosial itu tidak pernah ditambah atau diperbarui, tentunya lama-lama akan mudah tergerus atau berkurang.

Agar masyarakat bangsa ini bisa unggul dalam memenangkan ‘pertempuran’ di abad ke-21 ini tentunya orang harus bisa menambahkan  satu modal lagi, yang biasa disebut dengan  psychological capital atau modal psikologis seperti kreatifitas, pruduktivitas, daya saing, daya juang, tidak mudah menyerah, kerja keras, menguasai sesuatu saat bersaing dengan ketat, optimis, mental yang tangguh.

“Kalau kita simpulkan yakni modal alam kita sudah punya, modal sosial juga punya walaupun sampai sekarang mengalami ujian terus seperti ada usaha perpecahan, pernah juga ada konflik di Ambon, sehingga tercabik lagi modal sosial kita itu, Modal sosial tentu menjadi basisnya” kata pria kelahiran Padang Panjang, 31 Maret 1966 ini.

Karena kalau tidak ada keamanan, ketentraman, rasa saling percaya, persatuan, berkonflik, tidak ada ketenangan sosial, maka pembangunan di negara ini tentunya tidak dapat berjalan. Hal itulah yang tentunya menjadi renungan  agar kedepannya bangsa Indonesia bisa unggul di segala aspek.

“Artinya semangat kebangsaan, rasa saling percaya, kerjasama antar anak bangsa, antar berbeda agama, persatuan Indonesia tentunya harus bisa dijaga. Kita harus saling menjaga agar tidak mudah diadu-adu oleh paham-paham asing yang dapat memecah belah persatuan yang dapat menggerus modal social,” ucapnya.

Hal ini menurutnya tidak dapat dipungkiri karena kemarin-kemarin bangsa Indonesia sempat dirusak misalnya oleh intoleransi antar umat beragama sehingga  ada rasa saling curiga antar macam-macam kelompok dan golongan. Bahkan saat Pemilu lalu juga sempat sempat memanas karena adanya polarisasi di masyarakat yang menggerus social trush itu.

“Tentunya yang dapat memperkuat modal sosial itu adalah dengan memperkuat toleransi, saling menghargai,  mencintai bangsa ini, paham dengan sejarah bangsa kita ini bahwa dulu itu kita Merdeka karena memiliki  modal sosial yang kuat dengan rasa saling percaya, satu bangsa, satu Bahasa, ber Tanah Air yang satu yakni di Indonesia ini,” tuturnya.

Untuk itulah menurutnya, seluruh kontruksi kebangsaan, Pancasila dan pelajaran kewarganegaraan itu harus terus-menerus diingatkan dalam berbagai bentuk pada pendidikan kewargaan dari TK lalu berjenjang ke SD hingga Perguruan Tinggi. “Ini tentunya jangan dilupakan. Selain itu di forum-forum juga untuk saling mengingatkan bahwa bangsa ini bisa pecah kalau social trush itu tidak dipelihara,” katanya. .

Menurut Hamdi, usaha-usaha penangkalan untuk mencegah masuknya paham radikal harus terus menerus dilakukan dengan segala cara dengan melibatkan seluruh stakeholder masyarakat, baik itu guru sekolah, orang tua, instansi pemerintah, politisi dan juga TNI-Polri.

“Semuanya harus saling mengingatkan terus bahwa modal sosial ini harus diperbahari terus sebagai tabungan sosial bangsa Indonesia. Semua pihak juga jangan sedikitpun memberikan ruang intoleransi, misalnya paham-paham untuk memecah belah kesatuan, yang bertentangan dengan semangat NKRI yang ingin mengganti Pancasila,” ujarnya.mengakhiri.

Editor: Adri Irianto
Foto: -
Sumber: -

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad


Mengenai Hak Jawab dan Hak Koreksi terkait pemberitaan www.zonasatu.co.id dapat dikonfirmasikan ke email redaksi zonasatu.redaksi@gmail.com 

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
close