Masih Pimpin KPK, Pimpinan KPK yang sudah Kembalikan Mandat ke Presiden Berstatus Ilegal dan Tak Punya Malu - ZONASATU.CO.ID

Breaking

Home Top Ad

Saturday, 21 September 2019

Masih Pimpin KPK, Pimpinan KPK yang sudah Kembalikan Mandat ke Presiden Berstatus Ilegal dan Tak Punya Malu

Jakarta, ZONASATUTiga orang pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang sudah mengembalikan mandatnya ke Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) tapi masih tetap duduk dan bertahan dengan jabatannya di KPK, patut dianugerahi gelar sebagai orang yang paling tidak punya malu.

Karena mereka sudah menjilat ludahnya sendiri, tidak punya harga diri lagi dan justru patut dipertanyakan integritasnya. Ketiga orang tersebut yakni Agus Raharjo, Saut Situmorang dan La Ode M. Syarif.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, pun merasa heran bahwa di KPK yang dikenal sebagai lembaga super body itu ternyata dipimpin oleh orang tipe kepemimpinanya pemimpin ngawur seperti ketiga orang itu.

“Jika orang seperti ini masih memimpin KPK, integritas seperti apa yang bisa diharapkan dari mereka. Terbukti mereka hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa peduli dengan perasaan masyarakat," ujar Neta dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (21/9/2019)..

Hal tersebut menurut Neta, mengingat ketiganya sebelumnya  sudah sesumbar dan gagah berani membuat jumpa pers untuk mengembalikan mandatnya kepada Presiden Jokowi pada Jumat (13/9/2019) pekan lalu. Tapi faktanya mereka masih saja bertahan di KPK,

"Seharusnya mereka kembali menggelar jumpa pers untuk meminta maaf dan meminta ampun kepada Presiden Jokowi maupun kepada masyarakat, karena mereka sudah menjilat ludahnya sendiri dan tidak tahu malu,” ujar Neta.

Melihat ulah konyol ketiga pimpinan KPK itu, lanjut Neta, masyarakat seharusnya juga sudah tidak pantas lagi untuk menghargai mereka. Dan ketiganya juga sudah tidak pantas lagi menerima gaji dan fasilitas dari KPK.

“Presiden Jokowi tidak perlu menanggapi ketiga orang yang tidak punya malu tersebut. Jika hal itu terjadi di Jepang, orang orang seperti itu pasti sudah harakiri karena tak kuat menanggung malu,” tuturnya.

Anehnya, beberapa hari kemudian, dalam jumpa persnya Jumat (20/9/2019 kemarin, melalui Humas KPK memastikan bahwa lima pimpinan anti rasuah itu akan menyelesaikan tugasnya hingga akhir masa jabatan, yakni pada 21 Desember. Artinya ketiga pimpinan KPK yang sudah sesumbar mengembalikan mandatnya itu masih tetap bercokol di KPK, padahal mereka sudah tidak punya mandat.

“Seharusnya, jika mereka masih tetap mau bercokol di KPK, mandat yang sudah dikembalikan itu, mereka ambil lagi, baru kemudian mereka sah secara hukum bercokol di KPK dan bukan pimpinan ilegal tanpa mandat,” katanya

Tapi anehnya, walau sudah ilegal, Humas KPK menegaskan lima pimpinan itu akan tetap bekerja memberantas korupsi sampai akhir jabatan, meski sebelumnya sempat mengembalikan mandat ke Presiden Joko Widodo karena merasa revisi UU KPK akan melemahkan lembaga anti-rasuah itu.

“Sikap pimpinan KPK itu menunjukkan bahwa mereka bersikap semau gue, bersikap seenaknya, dan seolah olah KPK milik kelompoknya. Sehingga mereka bisa bertindak tanpa berpikir panjang, sangat naif, dan sangat kekanak kanakan,” jelasnya.

Seharusnya tambah Neta, jika tiga pimpinannya sudah mengembalikan mandatnya ke presiden, mereka tidak berhak lagi berada di KPK. Dengan demikian, secara hukum KPK tidak berhak lagi menjalankan tugasnya, sebagaimana diatur di UU No 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dipastikan kelima pimpinan KPK tersebut juga tidak sah lagi dalam mengambil kebijakan sampai Presiden menunjuk Plt. (pelaksana tugas).

“Sehingga jika KPK melakukan OTT dan menetapkan tersangka, tindakan itu tidak sah, ilegal dan bisa dipraperadilankan. Publik harus disadarkan bahwa saat ini KPK dipimpin orang orang ilegal,” kata Neta. 

Editor: Noor Irawan
Foto: -
Sumber: -

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad


Mengenai Hak Jawab dan Hak Koreksi terkait pemberitaan www.zonasatu.co.id dapat dikonfirmasikan ke email redaksi zonasatu.redaksi@gmail.com 

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
close