Aparat Tingkat Desa harus jadi Ujung Tombak Pencegahan Radikalisme dan Terorisme - ZONASATU.CO.ID -->

Breaking

Home Top Ad

Thursday, 24 October 2019

Aparat Tingkat Desa harus jadi Ujung Tombak Pencegahan Radikalisme dan Terorisme

Banjarmasin, ZONASATUAparat tingkat Desa seperti Lurah, Kepala Desa (Kades), Bintara Pembina Desa (Babinsa) TNI-AD, dan Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Polri harus bisa menjadi  ujung tombak dalam pencegahan radikalisme dan terorisme.

Hal tersebut tentunya sangat penting dikarenakan  pelibatan empat unsur pemerintahan paling bawah tersebut sangat mutlak dalam upaya untuk melakukan deteksi dini radikalisme dan terorisme di lingkungan masyarakat.

Hal tersebut dikatakan Deputi I bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Mayjen TNI Hendri Paruhuman Lubis pada acara Rembuk Aparatur Kelurahan Dan Desa Tentang Literasi Informasi yang diselenggarakan  melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) dengan tema “Saring Sebelum Sharing” di Banjarmasing, Kamis (24/10/2019).

“Peran Lurah, Kades, Babinsa, Babhinkamtibmas, sangat vital dalam sinergi pencegahan terorisme. Mereka adalah ujung tombak yang di lapangan. Mereka pertama paling tahu kalau ada orang asing atau calon teroris yang ada di lingkungan mereka. Karena itu penguatan pelibatan aparat dan masyarakat harus terus dilakukan,” ujar Mayjen TNI Hendri Paruhuman Lubis dalam paparannya di acara tersebut

Lebih lanjut alumni Akmil tahun 1986 ini menjelaskan, BNPT sebagai lembaga negara yang berwenang mengkoordinasikan penanggulangan terorisme di Indonesia terus melakukan berbagai inovasi dalam program pencegahan paham radikal terorisme tersebut. Seperti kegiatan di Banjarmasin ini, tentunya merupakan salah satu kegiatan rutin yang dilakukan BNPT, melalui FKPT di 32 Provinsi di Indonesia.

"Setiap minggu ada lima kegiatan penguatan dan pelibatan masyarakat dilakukan di lima provinsi yang dikelola Subdit Pemberdayaan Masyarakat. Pertama bidang sosial budaya, bidang pemuda dan pendidikan, bidang perempuan dan anak, bidang media, hukum, dan humas, dan terakhir bidang pengkajian dan penelitian," ujar mantan Komandan Satuan Induk Badan Intelijen Strategis (Dansat Induk) Bais TNI ini.

Mantan Komandan Grup 3/Sandi Yudha Kopassus menegaskan, bahwa kegiatan Ini nonstop dilaksanakan BNPT dan FKPT dari Februari sampai Desember dan di bulan November dilakukan Rakornas untuk menyusun program tahun berikutnya. Tujuannya semua untuk mencegah radikalisme dan terorisme.

“Presiden Joko Widodo telah menegaskan bahwa ancaman sudah di depan mata bagi negara kita. Pertama korupsi, kedua narkoba, dan ketiga intoleransi yang masig paling ringan. Tapi kalau akan jadi radikaliisme, radikalisme meningkat jadi terorisme. Kalau sudah terorisme pasti akan merugikan dan mengerikan,” ungkapnya.

Upaya ini, lanjut Hendri, juga sebagai perwujudkan kehadiran negara di tengah-tengah masyarakat. Menurutnya, FKPT sebagai kepanjangan tangan BNPT merupakan wujud pelibatan masyarakat secara langsung di daerah karena penanggulangan terorisme itu tidak bisa dilaksanakan hanya oleh aparatur keamanan semata, baik itu Polri, TNI, maupun BNPT, namun dibutuhkan sinergi kuat antara aparatur keamanan dan masyarakat.

“Bahaya terorisme menyasar tanpa memandang pangkat, jabatan, dan status sosial. Dalam konteks inilah pelibatan aparatur kelurahan dan desa beserta Babinsa, Babhinkamtibmas, seperti di Banjarmasin ini menjadi sangat penting. Apalagi masyarakat Indonesia masih sangat kental dengan kearifan lokal yang ada,” jelas mantan Dansat Intel BAIS TNI ini.

Untuk itu, dirinya mendorong aparatur kelurahan dan desa untuk dapat memahami apa dan bagaimana bahaya terorisme menjadi ancaman nyata. Mereka juga perlu mengetahui bagaimana strategi pencegahan terorisme untuk kemudian menyebarluaskan pengetahuan yang diperolah itu kepada masyarakat.

Pria yang dalam karir militernya dibesarkan di lingkungan Pasukan 'Baret Merah' Kopassus ini berharap, sinergi ini bisa saling mendukung, saling memberi, dan bangkit bersama. Pasalnya yang diperlukan dalam menghadapi berbagai potensi ancaman tidak lain adalah kebersamaan.

“Ketika bangsa ini kuat, masyarakat berani, dan seluruh komponen bersama bersatu menjadikan terorisme sebagai musuh bersama, maka kedamaian itu akan termain. Semangat kebersamaan dalam melawan dan mencegah terorisme inilah yang patut terus ditumbuhkan kembangkan dan dipelihara bersama sehingga potensi aksi terorisme bisa dicegah dan tidak lagi memiliki ruang dalam kehidupan bangsa Indonesia,” kata mantan Danrem 173/Praja Vira Braja ini.

Melalui kegiatan dan momentum ini, mantan Dansat Intel Bais TNI ini juga mengajak semua pihak agar senantiasa meningkatkan ketahanan diri dari pengaruh radikalisme dan terorisme. Juga bisa membangun deteksi dini melalui kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

“Terorisme bisa terjadi di manapun dan kapanpun secara tidak terduga. Jangan lengah karena para pelaku merupakan bagian dari masyarakat yang setiap saat ada dan mendiami lingkungan sekitar kita,” kata pria yang juga pernah menjabat sebagai Komandan Grup 3/Sandi Yudha Kopassus ini mengakhiri.



Kegiatan yang menyajikan dua sesi dialog ini dihadiri Asisten Administrasi Umum Pemprov Kalsel Drs. H. Heriansyah Msi mewakili Gubernur Kalsel H. Sahbirin Noor, Kepala BIN Daerah Kalsel Brigjen Pol. Winaro, serta jajaran Forkopimda Kalsel. Dialog sesi pertama menghadirkan narasumber Deputi 1 BNPT Mayjen TNI Hendri Paruhuman Lubis yang memaparkan perkembangan terorisme dan strategi pencegahannya. Narasumber kedua Drs. Faturrahaman (Kabid Media Massa, Hukum dan Humas FKPT Kalsel) yang melakukan Bedah Kasus Penyebarluasan Berita Bohong, Ujaran Kebencian, dan Informasi Negatif di Daerah.

Sementara pada dialog sesi kedua menghadirkan narasumber mantan Ketua Dewan Pers Yosep Stanley Adi Prasetyo dengan makalah “Strategi Komunikasi untuk Mencegah Penyebarluasan Berita Bohong, Ujaran Kebencian, dan Informasi Negatif sebagai Cikal Bakal Paham Radikal Terorisme dan Praktik Komunikasi Pencegahan Terorisme”.

Dalam sambutannya  Asisten Administrasi Umum Pemprov Kalsel,  Heriansyah mengungkapkan bahwa Pemprov Kalsel sangat mendukung kegiatan ini. Bahkan pihaknya meminta kegiatan  seperti ini bisa diperluas lagi hingga ke daerah-daerah.

“Sentuhan dari aparatur paling bawah inilah yang diharapkan bisa mendeteksi dini radikalisme dan terorisme, juga bisa melakukan deradikalisasi. Kami berharap kegiatan ini bisa diperluas ke daerah agar pencegahan terorisme ini bisa lebih masif, tidak hanya di Kalsel, tetapi juga di seluruh Indonesia,” terang Heriansyah.

Ia melanjutkan, bahwa upaya menjaga kesatuan NKRI adalah harga mati. Dengan demikian, deteksi dini harus terus dilakukan terhadap berbagai ancaman dan tantangan yang mengarah pada rapuhnya pada keutuhan NKRI. Aparatur paling bawah dinilai paling efektif untuk melakukan itu.

Heriansyah berharap kegiatan ini bisa memperkuat semangat kebangsaan dan nasionalisme dalam melawan paham radikal untuk keutuhan NKRI. “Ingat terorisme musuh kita bersama. Perlu kebersamaan dan sinergitas untuk memerangi. Saya juga mengimbau saring sebelum sharing, karena dengan begitu bisa meningkatkan kewaspadaan dan membentengi diri dari pengaruh radikalisme,” kata Heriansyah mengakhiri.

Editor: Adri Irianto
Foto: -
Sumber: -

No comments:

Post a comment

Post Bottom Ad


Mengenai Hak Jawab dan Hak Koreksi terkait pemberitaan www.zonasatu.co.id dapat dikonfirmasikan ke email redaksi zonasatu.redaksi@gmail.com 

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?