Rivalitas Khofifah Vs Risma tangani Covid-19 dapat kritikan bergizi - ZONASATU.CO.ID -->

Breaking

Home Top Ad

Tuesday, 5 May 2020

Rivalitas Khofifah Vs Risma tangani Covid-19 dapat kritikan bergizi


Surabaya, ZONASATUKesan persaingan atau perseteruan antara Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ditangkap oleh  masyarakat. Tak hanya penerapan kebijakan, aksi saling sindir saat memberikan pernyataan pun jadi sorotan.

Akun media sosial Twitter yang bernama @PartaiSocmed secara khusus membahas perseteruan dua pemimpin wanita ini dengan judul “Rivalitas Antara Khofifah dan Risma Membahayakan Penanganan Covid-19”, dengan memajang foto Khofifah postingan yang diunggah pada 1 Mei 2020 tersebut mendapat respon ribuan orang.

Berbagai ulasan, baik kebijakan maupun pernyataan ditampilkan lengkap di postingan ini yang menuai pro dan kontra netizen.

Pembahasan pertama akun ini menampilkan postingan Twitter radio suara Surabaya (@e100ss) tentang kebijakan Pemkot Surabaya menolak sandarnya kapal pesiar Viking Sun pada bulan Maret lalu. Postingan tersebut langsung dikomentari oleh akun Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur (@dinkesjatim) yang menyebut “Ibu Gubernur lebih memprioritaskan keamanan dan keselamatan masyarakat Jawa Timur” padahal jelas kebijakan tersebut diambil oleh Pemkot Surabaya.

Perseteruan terbaru yakni terkait permintaan Reagen oleh Wali Kota Surabaya sejumlah 7000 unit untuk tes awal yang disampaikan langsung kepada Menteri Kesehatan. Langkah ini dilakukan oleh Risma menindaklanjuti pernyataan Khofifah dengan menyebut Surabaya berwarna merah pekat merujuk pada jumlah penderita positif Covid-19.

Saat bantuan diturunkan sebanyak 4000 unit melalui Pemerintah Provinsi, Khofifah membagi dengan daerah lain. Hal ini ditangkap masyarakat sebagai sikap kontra produktif. Khofifah dianggap tidak memprioritaskan Surabaya dengan kondisi merah pekat seperti yang disebutkannya. Hal ini juga menjadi pembahasan di beberapa media mainstream.

Akun ini juga menyoroti sikap reaktif Gubernur Jawa Timur saat kasus Covid-19 yang terjadi pada karyawan pabrik rokok Sampoerna di Surabaya. Khofifah menyebut Pemkot Surabaya terlambat menangani kasus tersebut yang akhirnya mendapat reaksi dari Pemkot Surabaya.

@PartaiSocmed juga menulis mengenai aksi populis yang kontra produktif pada penanganan Covid-19 juga ditunjukkan Gubernur Jatim saat menggelar program sembako murah yang bertajuk “Lumbung Pangan Jatim” pada 21 April 2020 lalu. Acara yang digelar di JX Internasional tersebut dipadati pengunjung yang bergerombol tanpa menghiraukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).  Jika hal tersebut menjadi klaster baru maka Surabaya pula yang harus menanggungnya.

Terlihat tidak ada persiapan matang dari panitia penyelenggara  yang mengakibatkan bergerombolnya orang dalam jumlah. Pasalnya orang yang bergerombol tersebut sebagain besar adalah warga Surabaya.

Perseteruan Wali Kota Risma dan Gubernur Khofifah tidak berlangsung dalam waktu dekat saja, beberapa kalangan menyebut buntut dari Pilgub Jatim 2018 dimana Khofifah sebagai Cagub dan Risma mendukung pasangan pesaingnya Gus Ipul-Puti.

Konflik terpanas antara dua pemimpin perempuan ini terjadi saat penentuan venue untuk pertandingan Piala Dunia-U20, yang berujung hujatan masyarakat kepada Gubernur Khofifah karena dianggap tidak menghargai perjuangan Pemkot Surabaya dalam menata Stadion Gelora Bung Tomo (GBT).

Khofifah saat itu menyebut Stadion GBT tidak layak dijadikan satu dari lima venue untuk pertandingan sepak bola berskala internasional karena bau sampah. Pernyataan tersebut sontak membakar amarah warga Surabaya khususnya Bonekmania dan menghujat Gubernur perempuan ini melalui berbagai media sosial. Pernyataan Khofifah tersebut dijawab Risma dengan gerakan menanam pohon serta kerja bakti membersihkan sekitar stadion.

Pernyataan menarik dilontarkan salah satu warganet dengan akun Twitter @aidchameleon menyikapin unggahan ini. Warganet tersebut mengkritisi langkah Gubernur yang dianggap sering berstatmen di media.

“Ancen kroso rivalitas iki. Bu Gub senengane konpras konpres wes nyaingi Gub DKI. Akhire rakyate sing soro. Nyowo gak onok sing weruh sesok jik onok opo gak, mbok Yo damai dan gercep golek solusi koyok Gub Jabar (memang terasa rivalitas ini. Bu Gub sukanya konferensi pers sudah menyaingi Gubernur DKI. Akhirnya rakyat yang sengsara. Nyawa tidak ada yang tau besok masih ada atau tidak, damailah dan gerak cepat mencari solusi seperti Gubernur Jabar),” tulisnya dalam bahasa Jawa timuran.

Beberapa warganet berasumsi rivalitas ini bermuara pada pemilihan Gubernur Jawa Timur mendatang. Jika Risma bersinar dan berhasil di Surabaya, secara otomatis akan menjadi ancaman Khofifah untuk dua periode. Seperti yang ditulis oleh akun @hadibonerz.

“Kalau Bu Risma bisa mengatasi Corona di Surabaya, bukan tidak mungkin peluang maju ke Jatim 1 terbuka lebar. Dan itu jelas ancaman nyata Bu Khofifah. Kalau yang aku amati selama ini, banyak warga Surabaya sudah muak dengan Gubernurnya,” tulis akun  tersebut.

Beberapa warganet juga menginginkan kedua pimpinan ini untuk bersatu, bahu-membahu menanggalkan ego untuk mengatasi pandemi Covid-19 ini demi masyarakat Jawa Timur. Seperti yang ditulis akun @adealifya dengan langsung mencolek akun Twitter Khofifah.

“Bu @KhofifahIP ini kritik yang bergizi. Masa Anda masih panjang, sekarang saatnya bersatu melawan pandemi, selain itu nomor tujuh belasan,” tulisnya.

Bersatunya dua pemimpin wanita ini diharapkan menjadi energi baru berkesinambungan yang dapat mempercepat penanganan Covid-19 di Jawa Timur.

Editor: Indarti
Foto: Ist
Sumber: Zonasatu.co.id | Beritahu.info

No comments:

Post a comment

Post Bottom Ad


Mengenai Hak Jawab dan Hak Koreksi terkait pemberitaan www.zonasatu.co.id dapat dikonfirmasikan ke email redaksi zonasatu.redaksi@gmail.com 

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?