Tujuan utama teroris adalah penegakan Syariat Islam dan Khilafah - ZONASATU.CO.ID

Breaking

Home Top Ad

Wednesday, 1 September 2021

Tujuan utama teroris adalah penegakan Syariat Islam dan Khilafah


Jakarta | ZONASATU
-
 Kelompok teroris di Indonesian selalu menggunakan berbagai cara untuk melakukan propaganda. Namun tujuan utama kelompok teroris adalah menegakkan syariat Islam dan mendirikan negara Khilafah.

“Ujung pergerakan itu adalah penegakan syariat dan bentuk atau mengubah sistem negara menjadi sistem khilafah, meninggalkan ideologi kita yang bisa mengakomodir semua perbedaan yaitu pancasila dan kita melihat mereka mencoba mengubah sistem negara atau ideologi negara dengan ideologi yang mereka yakini,” kata Kadensus 88 Irjen Pol Martinus Hukom dalam diskusi daring, Selasa (31/8/2021).

Untuk mewujudkan itu, kelompok teroris menggunakan berbagai cara untuk melakukan rekrutmen anggota baru. Salah satunya dengan memasuki lingkungan pesantren hingga perguruan tinggi. Hal ini patut diwaspadai karena pesantren dan perguruan tinggi adalah lembaga pencetak generasi muda penerus masa depan bangsa.

“Mereka (teroris) menyusup melalui jalur pendidikan formal maupun informal sepeti pesantren, bahkan mereka menyusup di kelompok-kelompok belajar di perguruan tinggi,” kata Martinus.

Selain itu, Martinus menuturkan kelompok teroris juga menggunakan media sosial untuk mencari anggota. Adapun akun yang digunakan khusus milik kelompok tersebut.

“Kita lihat juga bahwa pola rekrutmen mereka itu biasanya mereka gunakan internet, media cetak yang mereka buat sendiri, media elektronik, kemudian juga medsos. Lalu ada pengajian-pengajian khusus,” ungkapnya.

Saat ini, lanjut Martinur, Kelompok teroris yang biasa beraksi di Indonesia mulai terendus membahas kemenangan Taliban di Afghanistan. Mereka terinsipirasi keberhasilan tersebut agar juga terjadi di Indonesia. Hal ini sekaligus menanggapi hubungan kemenangan Taliban dengan kelompok teroris di Indonesia.

“Dimana kita lihat ketika Taliban berhasil lalu mereka bertanya-tanya kalau Taliban berhasil kenapa kita tidak bisa. Ini bisa menjadi modal bagi mereka untuk melakukan hal yang sama di Indonesia,” kata mantan Direktur Penegakan Hukum Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ini .

Martinus mencontohkan pihaknya mengendus adanya kelompok teroris Indonesia yang mulai berdiskusi kemenangan Taliban di media sosial. Mereka terinspirasi agar kemenangan tersebut diduplikasi di tanah air. Diantaranya, penegakan syariat Islam dan mendirikan negara khilafah di Indonesia.

“Ujung pergerakan itu adalah penegakan syariat dan bentuk atau mengubah sistem negara menjadi sistem khilafah, meninggalkan ideologi kita yang bisa mengakomodir semua perbedaan yaitu pancasila dan kita melihat mereka mencoba mengubah sistem negara atau ideologi negara dengan ideologi yang mereka yakini,” tukasnya.

Martinus mencontohkan pihaknya mengendus adanya kelompok teroris Indonesia yang mulai berdiskusi kemenangan Taliban di media sosial. Mereka terinspirasi agar kemenangan tersebut diduplikasi di tanah air.

“Oleh karena itu kemarin ketika kita melakukan operasi kita menemukan adanya mereka membentuk sel-sel baru di dalam media sosial lalu membahas dan berdiskusi tentang keberhasilan Taliban menguasai panggung politik di Afghanistan,” jelas Martinus.

Ia mengingatkan bahwa kelompok militan di Afghanistan dan gerakan terorisme di Indonesia memiliki hubungan historis. Ia menyampaikan kelompok teroris yang biasa beraksi di tanah air merupakan bekas kombatan di Afghanistan

“Afghanistan secara historis mempunyai hubungan gerakan terorisme di Indonesia. Kita pada tahun 80-an dan 90-an NII mengirimkan orang kurang lebih kalau kita tidak salah ada 200 orang ke sana,” ujarnya.

“Saat ini ini orang-orang itu menjadi figur-figur sentral daripada kelompok-kelompok terorisme yang saya sebutkan tadi. Kelompok-kelompok intoleransi yang saya sebutkan tadi. Ada jamaah Islamiyah dan lain-lain. Dan secara historis ini akan mereka terus angkat lagi membuka lembaran lama membangkitkan semangat baru dengan sel-sel baru di Indonesia,” tutupnya.

Editor: Wawan
Foto: -
Sumber: -

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad


UNESCO menyebutkan Indonesia berada diurutan nomor dua dari bawah soal literasi dunia yang berarti penduduk Indonesia memiliki minat baca yang sangat rendah yaitu 0,001% atau dari 1.000 orang hanya 1 orang yang rajin membaca. Yuk, perkaya literasi dan biasakan membaca sampai selesai.

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?