Pemilihan Pangkostrad pengganti Jenderal Dudung masih alot...? - ZONASATU.CO.ID

Breaking

Home Top Ad

Thursday, 6 January 2022

Pemilihan Pangkostrad pengganti Jenderal Dudung masih alot...?


Jakarta | ZONASATU
-
 Sudah sebulan berlalu, posisi jabatan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) masih dibiarkan kosong setelah Jenderal TNI Dudung Abdurachman dilantik sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara pada 17 November 2021 lalu. Tentunya hal ini tidak biasa terjadi, meski sebelumnya juga pernah terjadi sejarah kursi Pangkostrad kosong.

Di tahun 2004, tepatnya Selasa, 28 September 2004, Letjen TNI Bibit Waluyo menyerahkan jabatannya sebagai Pangkostrad, kepada KSAD saat itu, Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu. Dimana Letjen Bibit memasuki  masa pensiun yang sejatinya sudah pensiun sejak 1 September 2004. Karena pengganti Bibit belum ditentukan maka tanggung jawabnya selaku Panglima Kostrad diambil alih KSAD. Sedang pelaksana tugas harian dialihkan ke Kepala Staf (Kas) Kostrad Mayjen TNI Syahril Tanjung.

Penunjukan Pangkostrad pengganti Bibit pun sepertinya juga berlangsung alot hingga akhirnya Panglima TNI pada saat itu Jenderal TNI Endriatono Sutarto menunjuk Komandan Komando Pembina Doktrin, Pendidikan dan Latihan Angkatan Darat (DanKodiklatad) Letjen TNI Hadi Waluyo sebagai Pangkostrad baru. Dengan dikeluarkannya Skep Panglima TNI pada 3 November 2004, setidaknya menunggu 37 hari untuk mendapatkan Pangkostrad baru pengganti Bibit   

Namun sejarah kosongnya jabatan Panglima 'pasukan tempur' terbesar di lingkungan TNI-AD ini kembali terulang. Entah mengapa Dewan Kepangkatan dan Jabatan Tinggi (Wanjakti) tidak kunjung menentukan Pangkostrad ke-43. Bisa jadi terjadi tarik ulur di kalangan mereka sendiri.

Padahal di jajaran pasukan tempur, jabatan Pangkostrad ini sangat strategis di lingkungan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Dimana Pangkostrad adalah organisasi di TNI AD yang bermarkas di  depan Stasiun Gambir, Jakarta ini adalah warisan Jenderal TNI Soeharto, sebagai Pangkostrad ke-1 yang telah banyak melahirkan figur militer terbaik di negeri ini.

Usai Jenderal Soeharto menjadi Presiden RI ke-2, dalam catatan redaksi Zonasatu.co.id, setidaknya ada 13 Perwira Tinggi lainnya yang sukses menjadi KSAD usai melalui jabatan Pangkostrad terlebih dahulu. Dimulai dari Jenderal Umar Wirahadikusuma, Makmun Murod, Poniman, Rudini, Wismoyo Arismunandar, Wiranto, Ryamizard Ryacudu, George Toisutta, Pramono Edhie Wibowo, Gatot Nurmantyo, Mulyono, Andika perkasa dan terakhir Dudung Abdurachman
 
Bahkan terbukti empat Pangkostrad diantaranya sukses menduduki jabatan sebagai Panglima TNI atau Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada saat itu, yakni Jenderal TNI Soeharto, Jenderal TNI Wiranto, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dan Jenderal TNI Andika Perkasa  

Di sinilah yang sampai saat ini masih menjadi pertanyaan, mengapa posisi Pangkostrad yang sangat strategis di lingkungan TNI-AD ini dibiarkan dirangkap jabatan oleh Jenderal Dudung. Padahal, banyak perwira tinggi (Pati) bintang dua maupun bintang tiga mumpuni yang layak menjabat sebagai Pangkostrad.

Beberapa nama sudah digadang-gadang sebagai pimpinan pasukan tempur Baret Hijau tersebut. Kebanyakan memang saat ini berpangkat Mayor Jenderal (Mayjen) atau bintang dua. Wajar saja bintang dua dipromosikan menjadi Pangkostrad. Namun, tetap ada syarat ketat yang secara informal harus dipenuhi.

Selain berlatar bintang dua senior, figur tersebut harus pernah menduduki jabatan Panglima Kodam (Pangdam), meski ada satu sejarah sebelumnya mencatat yakni Mayjen TNI Prabowo Subianto sebagai menantu Presiden Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Danjen Kopassus, tanpa pernah menjabat Pangdam langsung loncat ke bintang tiga menjadi Pangkostrad. 

Karena dengan pengalaman teritorial sebagai Pangdam, diharapkan ketika memimpin pasukan tempur terbesar di TNI-AD tersebut bisa lebih matang dalam mengambil kebijakan atau menyiapkan pasukan ketika akan menghadapi sebuah operasi.

Dari beberapa nama yang muncul, tentunya tidak kaget sama sekali dengan sosok yang disebut-sebut sebagai kandidat Pangkostrad. Dua nama yang paling santer diprediksi menjadi Pangkostrad adalah duo mantan Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Danpaspampres).

Pertama adalah Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Maruli Simanjuntak, dan kedua adalah Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Agus Subiyanto. Jika Maruli merupakan menantu Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan pernah menjabat sebagai Komandan Grup 2/Parako Kopassus dan Komandan Korem 074/Wirastratama yang berada di Solo serta Komandan Grup A Paspampres. Sedangkan Agus Subianto pernah menjadi Komandan Kodim 0735/Surakarta kala Jokowi menjabat sebagai Walikota Solo.

Jika Maruli (51 tahun) merupakan abiturien Akademi Militer (Akmil) 1992 maka Agus (54) setingkat di atasnya, yaitu 1991. Hanya saja, kedua pati tersebut sama-sama mengawali karir militernya dari kesatuan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI-AD.

Nama lain yang layak disebut sebagai calon Pangkostrad adalah duo Pangdam dari Papua. Pertama, Pangdam XVIII/Kasuari Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa (54). Kedua, Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Ignatius Yogo Triyono (56). Ketiga, Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Rudianto (54).

Kesamaan dari ketiga nama tersebut adalah jenderal dengan berlatar belakang korps Baret Merah Kopassus  yang memiliki pengalaman penugasan dan operasi yang terbilang matang.  Namun masih ada nama lain di luar lima nama pati tersebut. 

Lalu ada nama-nama Jenderal bintang dua lainnya yang pernah menjabat atau masih menjabat Pangdam untuk bisa menduduki jabatan Gambir 1 (istilah sandi Pangkostrad). Nama-nama tersebut adalah Mayjen TNI Teguh Pudjo Rumekso (Pangdam VI/Mulawarman) alumni Akmil 1991, Mayjen TNI Mulyo Aji (Pangdam Jaya) alumni Akmil 1987,  Mayjen TNI Richard Horja Taruli Tampubolon (Pangdam XVI/Pattimura dan mantan Komadan Koospssus TNI) alumni Akmil 1992, Mayjen TNI. M. Hasan (Pangdam Iskandar Muda) akmil 1993, Mayjen TNI Agus Suhardi (Pangdam II/Sriwijaya) alumni 1988, Mayjen TNI Marga Taufik (Wadanpusterad) alumni Akmil 1987 dan Mayjen TNI Achmad Marzuki (Aster KSAD) alumni Akmil 1989. Bahkan tiga nama terakhir tersebut  pernah menduduki jabatan sebagai Panglima Divisi Infanteri (Divif) Kostrad. 

Jajaran bintang dua lainnya yang pernah menjabat Pangdam yakni Mayjen TNI Muhammad Nur Rahmad (Kas Kostrad) alumni Akmil 1988, Mayjen TNI Heri Wiranto (mantan Pangdam VI/Mulawarman yang saat ini menjabat sebagai Pa Sahli Tk. III Kasad Bid. Jahpers) alumni akmil 1988,  Mayjen TNI Bambang Ismawan (Dan Kodiklat TNI), Mayjen TNI  Mohamad Sabrar Fadhilah (Tenaga Ahli Pengkaji bidang Politik Lemhannas mantan Pangdam I/Bukit Barisan) alumni Akmil 1988 

Lalu di jajaran bintang tiga ada Letjen TNI Anto Mukti Putranto (Dankodiklatad) alumni Akmil tahun 1987, Letjen TNI Madsuni (Staf Khusus Panglima TNI) akmil  1988), Letjen TNI Arif Rahman (Danpusennif Kodiklatad) Akmil 1988, Letjen TNI Jonny Supriyanto (Kepala BAIS TNI) Akmil 1986, Letjen TNI Suharyanto (Kepala BNPB) akmil 1989 dan Letjen TNI Mohammad Herindra (Wakil Menteri Pertahanan) akmil 1987 

Lalu bagaimana sebenarnya peluang mereka untuk dapat menduduki jabatan Pangkostrad ? Menengok ke belakang, kasus tarik ulur yang membuat posisi strategis sempat kosong hingga terjadi rangkap jabatan terjadi pada pemilihan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU). Marsekal Hadi Tjahjanto yang diangkat menjadi Panglima TNI oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada medio Desember 2017, hampir sebulan merangkat jabatan KSAU.

Hadi sampai mengemban dua posisi penting itu lantaran tak kunjung menunjuk pati bintang tiga sebagai penggantinya. Wakil KSAU Marsekal Madya (Marsdya) Yuyu Sutisna yang digadang-gadang menjadi KSAU tak kunjung diangkat. Saat itu, santer di kalangan wartawan jika Hadi kurang berkenan dengan Yuyu yang sama-sama berasal dari Akademi Angkatan Udara (AAU) 1986, untuk menggantikan jabatannya.

Sayangnya, kondisinya tidak begitu ideal. Saingan Yuyu adalah Marsdya Hadiyan Sumintaatmadja, yang merupakan Sekretaris Militer Presiden (Sesmilpres) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Lingkungan Istana maupun Hadi berada dalam posisi sulit. Karena tidak kunjung menemukan kandidat lain yang pas, akhirnya Yuyu terpilih sebagai KSAU.

Anehnya, jika sejak awal Hadi cocok dengan Yuyu maka seharusnya sejak dilantik menjadi Panglima TNI menggantikan Jenderal Gatot Nurmantyo, ia wajib secepatnya menyerahkan jabatan KSAU. Namun, ini baru dilakukan pada bulan berikutnya. Di sinilah dinamika pemilihan KSAU hingga membuat jabatan tersebut sampai lowong dan dirangkap Hadi dalam hitungan waktu cukup lama.

Anggota Komisi I DPR Dave Laksono memberi sinyal adanya sejumlah nama yang beredar dalam bursa calon Pangkostrad . Namun dia menekankan bahwa nama-nama tersebut tidak mungkin dipublikasikan. 

"(Memang) sebenarnya ada beberapa nama yang muncul. Tidak sampai 4-5 nama. Kita tunggu ya," beber Dave seperti dikutip  MNC Portal Indonesia, Senin (27/12/2021) lalu. 

Dia juga tidak merinci, apakah sejumlah nama yang menjadi calon kuat Pangkostrad mendatang berasal dari 16 perwira tinggi TNI AD yang saat ini berpangkat letnan jenderal atau ada yang masih berpangkat mayor jenderal. 

Di tempat terpisah, pengamat militer dari Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE) Anton Aliabbas mengungkapkan, 57,9% calon pengganti Pangkostrad merupakan lulusan akademi militer yang lebih muda dari Jenderal Dudung. 

Sedangkan 31,6% merupakan lulusan akmil yang lebih senior. Sisanya, 10,5% adalah teman seangkatan Dudung di Akmil. Anton mengingatkan, berlarut-larutnya pemilihan Panglima Kostrad berpotensi memunculkan spekulasi politisasi jabatan militer. 

"Ini karena jabatan Panglima Kostrad juga merupakan salah satu batu loncatan menjadi KSAD," jelasnya.

Namun demikian, sangat sulit berharap ada figur lain yang bisa menyodok di tikungan terakhir untuk menjadi Pangkostrad. Mengapa demikian? Karena pada pemerintahan era Jokowi, pemilihan jabatan strategis, bahkan di TNI sangat kental nuansa politiknya. Dari berbagai hal yang sudah terjadi Jokowi banyak mengangkat pati yang memiliki kedekatan dengannya.

Bersyukurlah perwira yang bertugas di Solo ketika Jokowi masih menjadi walikota dan termasuk juga dari lingkungan Paspampres itu sendiri, karena sekarang kariernya bakal lebih moncer. Pun demikian jika tidak ada kedekatan dengan kekuasaan maka jangan terlalu berharap banyak bisa menduduki posisi strategis di TNI pada era sekarang. Namun kedekatan itu juga bukan jaminan. 

Tetapi Panglima TNI sebelumnya yakni Marsekal Hadi Tjahjanto dan Jenderal Andika Perkasa, maupun KSAD Dudung Abdurachman sudah membuktikannya. Ada relasi kekuasaan yang mengantarkan mereka bisa menggapai posisi penting di TNI.

Namun demikian tidak salah juga, jika kandidat Pangkostrad akhirnya mengerucut ke kedua nama. Baik Maruli maupun Agus sangat terbuka lebar untuk menempati kursi Pangkostrad. Keduanya sama-sama pernah mengawal Jokowi, termasuk dengan Andika juga pernah menjabat sebagai Danpaspampres.

Pun keduanya juga memiliki relasi spesial. Jika Maruli memiliki modal berstatus menantu Luhut yang dikenal sebagai menteri paling powerful di pemerintahan Jokowi maka Agus sudah mengenal dekat RI 1 sejak keduanya sama-sama berdinas di Solo.

Seperti diketahui, Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat atau biasa disingkat Kostrad adalah bagian dari Komando Utama tempur yang dimiliki oleh TNI-AD. Kostrad memiliki jumlah pasukan yang dirahasiakan dan selalu siap untuk beroperasi atas perintah Panglima TNI kapan saja. Dari berbagai info, jumlah personil Kostrad sendiri mencapai lebih dari sekitar 30.000 personil 

Saat ini Kostrad terdiri dari tiga Divisi, dimana  Divisi Infanteri 1/Kostrad berada di Cilodong, Depok; Divisi Infanteri 2/Kostrad berada di Singosari, Malang, dan Divisi Infanteri 3/Kostrad berada di Bontomarannu, Gowa. Dimana masing-masing Divisi membawahi sekitar 15-20 batalyon atau Detasemen. Selain itu masih ada dua Batalyon lagi yang berada di bawah kendali Pangkostrad yakni Batalyon Mandala Yudha/Komposit yang bermarkas di Lebak dan Batalyon Satria Sandi Yudha (Yon Intelpur) yang bermarkas di Lenteng Agung, Jakarta. 

Dengan jumlah tersebut, hal itu  tentunya bukanlah suatu pasukan tempur yang bisa dikatakan sedikit. Selain unsur politis, tentunya butuh sosok Panglima yang tidak hanya mumpuni dalam strategi tempur semata, tetapi juga bisa mengayomi prajurit dan juga membina unsur-unsur yang ada di dalamnya.

Dengan berbagai dinamika seperti itu, sudah seharusnya posisi Pangkostrad diisi secepatnya. Hanya saja, yang perlu diketahui, setiap posisi bintang tiga harus melalui keputusan presiden (keppres). Sehingga ada juga kepentingan Jokowi untuk menentukan siapa yang layak menduduki jabatan Pangkostrad.

Untuk itu, mari kita tunggu saja bersama mengenai dinamika yang terjadi dan siapa yang akhirnya mendapat amanah menjadi Pangkostrad nantinya. 

Editor: Noor Irawan
Foto: -
Sumber: -

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad


UNESCO menyebutkan Indonesia berada diurutan nomor dua dari bawah soal literasi dunia yang berarti penduduk Indonesia memiliki minat baca yang sangat rendah yaitu 0,001% atau dari 1.000 orang hanya 1 orang yang rajin membaca. Yuk, perkaya literasi dan biasakan membaca sampai selesai.

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?